Selasa, 12 November 2013

Sebuah Harapan

Suatu hari ada seorang laki-laki yang sedang sibuk menyiapkan ilmu untuk menghadapi UTS yang akan diadakan di kampusnya. Laki-laki ini terdiri dari enam oang, mereka menjuluki dirinya “seniority” entah dari mana asal mula kata “seniority” ini. Mereka terdiri dari Tanto, Galih, Muklis, Hadi, Indra, dan Ganang, tentunya mereka dari berbagai daerah yang berbeda.
Singkat cerita Tanto diSMS sama Ganang yang sudah ada di kostan Galih, Galih bersama Indra  sudah menanti kehadiran Tanto. Sesampainya Tanto di kostan, Galih, Ganang dan Indra pun sangat senang, karena mungkin kalau tidak ada Tanto tidak seru. Tidak lama kemudian Muklis pun menyusul ke kostan Galih. Semua sudah berkumpul, walaupun ada satu yang tidak ikut gabung mereka, yaitu  Hadi. Tapi itu semua tidak mematahkan semangat Tanto, Galih, Ganang dan Indra untuk belajar bersama.
UTS pertama kebetulan pelajaran Akuntansi, tau sendirikan akuntansi kaya gimana? Apa lagi ini soalnya pakai bahasa inggris, makin keblinger aja dehtuh. Tapi mau tidak mau mereka harus belajar Akuntansi.
Mualailah mereka membuka buku Akuntansi.
 Ganang “aduh bro, baru buka bukunya aja gue udah mumet, bahasanye mantep bener ini, gue kagak ada yang ngerti sama sekali” sambil menghela napas.
Tanto juga mulai bosan karena dia juga tidak mengerti.
Tanto “gimana kalau kita main Uno aja? Siapa tau dapet pencerahan. Hehe”
Ganang “wah ide bagus tuh To. Ah tapi yang bener aje lu To, besok UTS gimana nih?” wajah cemas.
Indra “yah Ganang, kita main sebentar aja deh abis itu baru kita belajar. Serius deh serius” bujuk Indra kepada Ganang.
Galih “gue juga takut nih, kan kita dari awal niatnya belajar buat UTS bukan malah main-main kaya gini”
Indra “ yee lu samanya kaya Ganang nih Lih. Ga asik aahh....kan tadi gue bilangnya kita main sebentar aja, biar seger”
Galih dan Ganang saling lirik “yaudah deh, tapi cuma sebentaran yee”
Tanto “ siap bro! Yaudeh..gue ambil Unonya dulu di kostan gue. Eh tapi hujan nih? Gimana dong?”
Muklis “lu kan cowo To, masa iya takut sama hujan?  Hujan kan air, kalau hujan batu gue juga baru takut. Hahaha” ledek Muklis
Kemudian Tanto pulang ke kostannya untuk ambil Uno.
Setibanya di kostan Galih, teman-temannya sudah bersiap-siap untuk main. Tapi ternyata Galih sama Ganang memilih untuk belajar Akuntansi, karena Galih sama Ganang sangat berharap nilai UTS semester 1 mereka memuaskan. Mereka mencoba untuk memahami setiap dari pelajaran yang dosen kasih kepadanya.
Tanto, Indra, Muklis dengan santainya bermain, tanpa memperdulikan pelajaran Akuntansi. 2 jam berlangsung mereka bermain, Tanto pun mulai jenuh dan dia menghampiri Galih sama Ganang.
Tanto “udah ngerti lu pada?”
Galih “InsyaAllah ngerti To” senyum tipis.
Ganang “lah lu udahan mainnya?” Tanya Ganang.
Tanto “udah, bete ah gue dari tadi main, gue menang mulu. Hahahaha” tawa lepas.
Indra sama Muklis masih asik main berdua, sampai-sampai mereka lupa kalau besok UTS.
Kemudian Tanto mulai ikut belajar bersama Galih dan Ganang. Tanto pun juga ingin seperti mereka yang ingin mendapatkan nilai yang memuaskan. Karena Indra dan Muklis juga merasa jenuh bermain, mereka berdua juga akhirnya ikut belajar Akuntansi bersama Galih, Ganang, Tanto. Tanto ini sebenernya pintar Akuntansi, tetapi soal Akuntansi bahasanya pakai bahasa inggris. Lemahlah Tanto di bahasa inggris. Tapi lama-kelamaan Tanto mulai mengerti dan memahami Akuntansi. Dan akhirnya Tanto, Galih, Ganang, Indra dan Muklis mulai belajar dengan sungguh-sungguh, agar harapan mereka berjalan sesuai -harapan mereka masing-masing.
Dari cerita di atas, dari hal kecilpun kita tahu suatu harapan akan terwujud jika kita mau bersungguh-sungguh. Pasti akan menghasilkan suatu yang lebih disuatu saat nanti.


NB: Ambil nilai positifnya aja ya guys dari cerita ini hehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar