Kamis, 31 Desember 2015

Tulisan Ke-10: CSR PT BCA FINANCE

Sejarah Perusahaan
PT BCA Finance berdiri pada tahun 1981 dengan nama PT Central Sari Metropolitan Leasing Corporation (CSML). Pada awal berdirinya, pemegang saham Perusahaan adalah PT Bank Central Asia dan Japan Leasing Corporation. Saat itu Perusahaan masih memfokuskan usaha pada pembiayaan komersial, seperti pembiayaan mesin-mesin produksi, alat berat dan transportasi.
 Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 441/KMK.017/1995 tanggal 14 September 1995 dan Surat Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. KEP-034/KM.5/2006 tanggal 20 Februari 2006, Perusahaan memperoleh pembaharuan mengenai izin usaha dalam bidang usaha lembaga pembiayaan sehingga Perusahaan dapat melakukan kegiatan usaha sebagai lembaga pembiayaan yang meliputi pembiayaan konsumen, kegiatan sewa guna usaha, anjak piutang, dan usaha kartu kredit.
Selanjutnya pada tahun 2001 PT Central Sari Metropolitan Leasing berubah nama menjadi PT Central Sari Finance (CSF), diikuti dengan perubahan kepemilikan saham, dimana PT Bank Central Asia, Tbk (BCA) menjadi pemegang saham mayoritas, serta perubahan fokus usaha menjadi pembiayaan kendaraan bermotor, khususnya roda empat atau lebih. Terakhir, Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No.C-08091 HT.01.04.TH.2005, maka per tanggal 28 Maret 2005 PT Central Sari Finance telah berubah nama menjadi PT BCA Finance.

Seiring dengan perubahan nama tersebut, pertumbuhan BCA Finance pun semakin melesat tajam. Hal ini tercermin dari terus meningkatnya jumlah pelepasan pembiayaan baru dan total asset kelolaan secara signifikan. Prestasi ini tidak terlepas dari dukungan penuh yang diberikan oleh Perusahaan induk kami yaitu PT Bank Central Asia, Tbk.

Dalam bidang pembiayaan, sampai dengan saat ini Perusahaan masih tetap fokus di sektor pembiayaan mobil. Dari waktu ke waktu BCA Finance berupaya secara terus menerus untuk meningkatkan market share Perusahaan, baik dengan penerapan strategi yang tepat, melakukan ekspansi pembukaan cabang-cabang baru maupun dengan senantiasa memberikan pelayanan terbaik kepada paracustomernya. Perusahaan telah memiliki jaringan usaha yang relatif luas yang tersebar di berbagai kota besar di seluruh Indonesia.
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
"BCA menjalankan berbagai program CSR di bawah payung Bakti BCA, sebagai bagian dari kontribusi BCA terhadap upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat"

Sejalan dengan salah satu misi Perseroan, khususnya dalam rangka meningkatkan nilai franchise dan nilai stakeholder, BCA aktif mengembangkan program corporate social responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Implementasi dari beragam kegiatan CSR BCA berada di bawah payung program Bakti BCA. BCA yakin bahwa melalui pelaksanaan program Bakti BCA, Perseroan dapat turut aktif berkontribusi membangun kesejahteraan masyarakat. Hal inilah yang mewarnai semangat pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility atau CSR) BCA selama ini.

Program Bakti BCA tidak diarahkan untuk semata-mata menjadi program bantuan (charity), ataupun hanya sebagai pemenuhan kewajiban saja. Pengembangan program Bakti BCA berpijak pada konsep berkelanjutan. BCA berkomitmen untuk menjadikan filosofi dan tujuan CSR sebagai bagian tak terpisahkan dari aktivitas Perusahaan. Oleh karenanya, dalam setiap pengembangan produk dan layanan BCA kepada nasabah, di dalamnya tersirat komitmen BCA untuk memberikan pelayanan yang mendorong pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat.

BCA menyadari dirinya merupakan bagian masyarakat, oleh sebab itu BCA berkomitmen untuk senantiasa memberikan dukungan kepada masyarakat dan bersama membangun kesejahteraan. Untuk itulah BCA mengembangkan berbagai program sosial kemasyarakatan di bawah payung Bakti BCA.
Program-program CSR tersebut dituangkan dalam program Bakti BCA yang dilakukan secara berkesinambungan, yang tertuang dalam 3 (tiga) pilar berikut:


1.      Solusi Cerdas BCA
Solusi Cerdas BCA merupakan program Bakti BCA yang berkaitan dengan bidang pendidikan. Beragam program dikembangkan BCA sebagai implementasi peran aktif BCA dalam mendukung pengembangan pendidikan generasi muda Indonesia, sebagai penerus pembangunan bangsa. BCA meyakini bahwa kualitas manusia sangat menentukan keberhasilan pembangunan suatu negara karena dengan penduduk yang berkualitas berbagai potensi ekonomi dan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia dapat diolah dan dikelola dengan baik. Untuk itulah, melalui pilar Solusi Cerdas BCA, BCA mendukung upaya meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusia Indonesia, khususnya generasi muda dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mendatang.
Program Solusi Cerdas BCA yang dikembangkan secara berkesinambungan, antara lain:
  • Program Pendidikan Akuntansi (PPA) Non-Gelar
  • Program Pendidikan Teknologi Informasi (PPTI) Non-Gelar
  • Program Magang Bakti BCA
  • Bakti BCA Terintegrasi
  • Beasiswa Bakti BCA
  • Kemitraan Pendidikan
  • Edukasi Solusi Perbankan & Literasi Keuangan
2.      Solusi Sinergi BCA
BCA bersinergi dengan beberapa lembaga yang memiliki kredibilitas dan kompetensi dalam bidang budaya, kesehatan, lingkungan, olahraga, dan empati, untuk mengimplementasikan beberapa kegiatan Solusi Sinergi BCA. Program yang dijalankan pada tahun 2014 antara lain adalah sebagai berikut:
  • Bakti BCA dalam Bidang Budaya
  • Bakti BCA dalam Bidang Kesehatan
  • Bakti BCA dalam Bidang Lingkungan
  • Bakti BCA dalam Olahraga
  • Program Empati
  • Lain-lain
3.      Solusi Bisnis Unggul BCA
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya yang ditujukan untuk menciptakan keadaan di mana masyarakat mampu bertumbuh dan mencapai kemajuan secara mandiri. BCA mendukung upaya tersebut melalui Solusi Bisnis Unggul BCA. Program ini dikembangkan sejalan dengan salah satu keunggulan solusi perbankan BCA dalam payment system. Beberapa bentuk implementasi program solusi bisnis unggul BCA, antara lain: 
1. Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Mitra Bersama;
2. Pemberdayaan dan Kemitraan dengan Komunitas.

Sejalan dengan misi Perseroan dalam hal memberikan nilai terbaik kepada masyarakat, Perseroan senantiasa berusaha untuk tetap peduli pada masyarakat dan lingkungan dengan aktif melakukan berbagai kegiatan sosial sebagai bentuk Tanggung Jawab Sosial Perseroan (Corporate Social Responsibility).

Program-program yang diadakan merupakan komitmen Perseroan dalam rangka mendukung peningkatan kesejahteraan dan kepedulian sosial bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Bantuan Sosia

Perseroan sebagai bagian dari masyarakat senantiasa turut aktif dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Kegiatan ini ditujukan untuk meringankan dan menunjukkan rasa kepedulian terhadap saudara-saudara kami yang kurang mampu atau terkena musibah. 

Sebagai bentuk kepedulian terhadap anak bangsa, tahun 2009 lalu Perseroan telah memberikan bantuan berupa uang tunai dan kebutuhan sehari-hari kepada Panti Asuhan Tunas Bangsa, Cipayung, Jakarta. Panti asuhan tersebut merupakan yayasan sosial yang menaungi anak-anak terlantar dan bayi yang ditinggal orang tuanya di rumah sakit.

Selain itu, Perseroan juga senantiasa aktif dalam memberikan bantuan kepada korban bencana alam. Pada bulan Oktober 2009, saat kota Padang dan sekitarnya diluluhlantakkan oleh gempa bumi dahsyat, jaringan Perseroan juga mengalami kerusakan, dan beberapa karyawan pun ikut menjadi korban. Gempa ini mengetuk Perseroan untuk aktif menggalang dana kemanusiaan untuk disalurkan kepada korban gempa tersebut. Selain dalam bentuk uang tunai, Perseroan juga memberikan bantuan berupa sembako untuk meringankan beban hidup para korban gempa tersebut. Selain aktif sendiri menggalang bantuan, Perseroan juga ikut dalam kegiatan peduli gempa Padang yang diadakan oleh APPI (Asosiasi Perseroan Pembiayaan Indonesia).

Gempa di Kepulauan Mentawai yang terjadi pada tahun 2010 yang menimbulkan banyak kerusakan kembali mengetukkan Perseroan untuk turut memberikan bantuan melalui Yayasan KAUM yang aktif memulihkan kehidupan di Mentawai pasca gempa.

Pada tahun 2014 bulan Maret Perseroan juga ikut dalam memberikan bantuan lewat kegiatan APPI Peduli seperti bencana gunung meletus Sinabung, Banjir Manado dan Banjir Jakarta.  Selain bekerja sama dengan APPI Perseroan juga bekerja sama dengan Showroom rekanan memberikan bantuan bakti sosial untuk korban bencana  letusan gunung kelud di Kediri dan sekitarnya.

Bantuan Pendidikan

A. Beasiswa Prestasi   

Beasiswa Prestasi (BSP), merupakan program beasiswa dalam bentuk uang sekolah kepada anak karyawan yang berprestasi. Program beasiswa ini diselenggarakan oleh APPI bersama dengan BCA Finance dan anggota lainnya.

B. Beasiswa BCA Finance

Selain dari program Beasiswa Prestasi, Perseroan juga mengadakan Program Beasiswa BCA Finance. Program ini adalah salah satu bukti kepedulian Perseroan di Bidang Pendidikan untuk mengurangi angka putus sekolah dengan memberikan bantuan finansial kepada mahasiswa yang berprestasi dan memiliki keterbatasan finansial. 

Pada tahun 2009, BCA Finance menerima 3.599 aplikasi permohonan beasiswa dari seluruh wilayah Indonesia. Program Beasiswa BCA Finance 2009 diberikan kepada 20 Mahasiswa dari 20 Perguruan Tinggi yang tersebar di Indonesia. Bantuan diberikan berupa uang tunai setiap bulan hingga mahasiswa tersebut menyelesaikan masa studinya, dengan total beasiswa senilai maksimum Rp. 306.000.000,-. Mahasiswa yang terpilih untuk mendapatkan beasiswa diundang ke Jakarta untuk bertemu dengan manajemen BCA Finance dan melihat langsung kegiatan operasional di BCA Finance. Tujuannya adalah agar manajemen BCA Finance mengenal lebih dekat dengan para penerima beasiswa.

Setelah sukses di tahun 2009, di tahun 2010 BCA Finance kembali menggulirkan program Beasiswa BCA Finance. Jumlah aplikasi yang masuk adalah sebanyak 8.858 aplikasi atau meningkat hampir tiga kali bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Beasiswa BCA Finance 2010 diberikan kepada 38 orang mahasiswa berprestasi yang kurang mampu secara ekonomi dari 26 Perguruan Tinggi di seluruh Indonesia. Bantuan diberikan berupa uang saku dan uang SPP setiap semester hingga mahasiswa tersebut menyelesaikan masa studinya, dengan total beasiswa senilai maksimum Rp.420.000.000,-

Di tahun 2011, BCA Finance kembali menggulirkan program Beasiswa yang ketiga. Program Beasiswa BCA Finance 2011 disambut antusias oleh mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia, hal tersebut ditandai dengan meningkatnya jumlah aplikasi dari tahun sebelumnya sebanyak 8.858 aplikasi menjadi 10.251 aplikasi. Beasiswa BCA Finance 2011 diberikan kepada 40 mahasiswa dari 32 Perguruan Tinggi di Indonesia. Bantuan diberikan berupa uang saku setiap semester hingga mahasiswa tersebut menyelesaikan masa studinya, dengan total beasiswa senilai maksimum Rp.567.000.000,-

Di tahun 2012, BCA Finance kembali mengadakan program Beasiswa yang keempat kalinya. Jumlah aplikasi yang masuk mencapai 48.154 atau meningkat lebih dari empat kali lipat bila dibadingkan dengan aplikasi yang masuk di tahun 2011. Peningkatan jumlah aplikasi tersebut dikarenakan adanya kemudahan bagi para mahasiswa untuk mendaftar secara online melalui website BCA Finance. Ditahun 2012, BCA Finance memberikan bantuan biaya pendidikan setiap semesternya kepada 50 mahasiswa dari 45 Perguruan Tinggi di Indonesia hingga mahasiswa tersebut menyelesaikan masa studinya, dengan total Beasiswa senilai maksimum Rp.900.000.000,- 

Tanpa terasa program Beasiswa BCA Finance sudah 5 tahun bergulir dan ditahun 2013 jumlah penerima beasiswa meningkat menjadi 60 orang yang tersebar di 51 perguruan tinggi di Indonesia dengan total Beasiswa senilai maksimum Rp.1.080.000.000,-.  Untuk memperingati 5 tahun program Beasiswa BCA Finance bergulir diadakan acara Pancawarsa dan Meet and Greet Beasiswa BCA Finance.  Dalam acara ini BCA Finance mengundang 30 orang perwakilan dari setiap angkatan yang terpilih melalui seleksi yang dilakukan melalui karya tulis yang dikirimkan oleh setiap penerima Beasiswa.  Total penerima Beasiswa BCA Finance sejak bergulir ditahun 2009 sampai dengan 2013 berjumlah 208 orang.

C. BCA Finance Berbagi

Program BCA Finance berbagi merupakan salah satu bentuk kegiatan sosial dengan menyumbangkan sebagian asset Perseroan layak pakai kepada yayasan sosial. Perseroan berharap program ini dapat memberikan nilai lebih kepada setiap penerima bantuan dalam meningkatkan pendidikan dan keterampilan bagi para anak didiknya. 

Dalam rangka menyambut Ulang Tahun BCA Finance yang ke-29 pada tanggal 7 Maret 2010, BCA Finance telah mengadakan program ”BCA Finance Berbagi” dengan membagikan 150 unit komputer layak pakai kepada 20 yayasan sosial dan lembaga pendidikan di Jabotabek, Serang, dan Sukabumi.

PT BCA Finance
Laporan keuangan beserta laporan auditor independen tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2012, 2011 dan 2010


PT BCA
FINANCE LAPORAN POSISI KEUANGAN
31 Desember 2012, 2011 dan 2010
 (Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)


PT BCA
FINANCE LAPORAN POSISI KEUANGAN (lanjutan)
31 Desember 2012, 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

PT BCA
FINANCE LAPORAN POSISI KEUANGAN (lanjutan)
31 Desember 2012, 2011 dan 2010

(Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

PT BCA FINANCE
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2012, 2011 dan 2010
(Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) 

PT BCA FINANCE
LAPORAN ARUS KAS
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2012, 2011 dan 2010

(Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

PT BCA FINANCE
LAPORAN ARUS KAS (lanjutan)
Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal
31 Desember 2012, 2011 dan 2010


(Disajikan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)
PT BCA FINANCE
LAPORAN KEUANGAN TAHUN BERAKHIR 31 DESEMBER 2013

PT BCA FINANCE
LAPORAN POSISI KEUANGAN
31 DESEMBER 2013
(Dalam jutaan rupiah, kecuali dinyatakan khusus)

PT BCA FINANCE
LAPORAN POSISI KEUANGAN
31 DESEMBER 2013 (Lanjutan)
(Dalam jutaan rupiah, kecuali dinyatakan khusus)

PT BCA FINANCE
LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF
TAHUN BERAKHIR 31 DESEMBER 2013
(Dalam jutaan Rupiah, kecuali dinyatakan khusus)

PT BCA FINANCE
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
TAHUN BERAKHIR 31 DESEMBER 2013
(Dalam jutaan Rupiah, kecuali dinyatakan khusus)

PT BCA FINANCE
LAPORAN ARUS KAS
TAHUN BERAKHIR 31 DESEMBER 2013
(Dalam jutaan Rupiah, kecuali dinyatakan khusus)


Annual Report PT BCA FINANCE Tahun 2013

Annual Report PT BCA FINANCE Tahun 2014




SUMBER:

Tulisan ke-9: Hubungan Pengemis, Pengamen dan Pengangguran Dalam Perekonomian

Hubungan Pengemis Dalam Perekonomian
Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Di masa lalu, menjadi pengemis merupakan suatu keterpaksaan, saat ini merupakan suatu pilihan yang dilakukan dengan sukarela. Daya tarik yang mengundang banyak orang ini pada akhirnya menimbulkan persaingan di antara sesama pengemis. Salah satu dampak dari persaingan adalah timbulnya koordinator lapangan, yang mengatur jumlah pengemis di setiap titik sekaligus mencari titik-titik yang berpotensi untuk menghasilkan pendapatan. Selain itu, pengemispun juga harus menggunakan berbagai strategi untuk menarik perhatian dan mendorong orang untuk memberikan uang kepada mereka. Jika di masa lalu, penampilan umum pengemis adalah dengan baju yang kumuh, wajah yang kotor dan memelas, serta perilaku yang menunjukkan kecacatannya, maka sekarang ini berbagai strategi mereka lakukan, seperti:
1. Berdiri di tengah terik matahari dengan cucuran keringat.
2. Menunjukkan bukti bahwa mereka cacat, misalnya dengan tidak menggunakan baju atau menggulung celananya. Saya pernah melihat seorang pengemis berbadan tegap bertelanjang dada untuk menunjukkan bahwa dia kehilangan satu tangan, suatu gabungan antara cacat dengan badan yang sehat. Strategi ini dilakukan karena banyak pengemis yang berpura-pura cacat, misalnya dengan menyembunyikan tangan atau kakinya dibalik pakaiannya.
3. Duduk atau menggeletak di tengah jalan, di antara mobil-mobil, sehingga menimbulkan lebih banyak perhatian bagi pengemudi agar tidak menabrak mereka dan lebih memudahkan pengendara memberikan uang.
4. Menggendong anak kecil atau langsung menggunakan anak kecil untuk mengemis. Penggunaan anak kecil biasanya lebih efektif dalam memancing perhatian dan belas kasihan, karena itu semakin banyak pengemis yang menggunakan anak dalam bekerja. Dengan semakin banyaknya pengemis menggunakan strategi ini, maka berkuranglah efektivitasnya. Lalu mereka bersaing dengan menggunakan anak yang semakin kecil ataupun bayi. Seorang kompasioner pernah bercerita bertemu dengan pengemis yang membawa bayinya yang masih berumur beberapa minggu.
5. Membawa formulir sumbangan entah dari mesjid atau panti asuhan mana karena surat permohonan yang terbungkus plastik sudah kotor untuk dibaca. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang anak yang menyerbu saya, masing-masing membawa lembar dari mesjid/panti asuhan yang berbeda. Strategi ini cocok untuk menarik perhatian dan uang dari orang yang enggan memberi uang untuk pengemis tapi senang untuk menyumbang mesjid/panti asuhan. Model permintaan sumbangan ini bukan gagasan orisinil dari pengemis. Mereka mungkin belajar dari permintaan sumbangan yayasan sosial yang didirikan pejabat tinggi negara ataupun permintaan sumbangan dari pensiunan pegawai tertentu, yang juga banyak menghadapi permasalahan akuntabilitas, tercampur untuk kebutuhan pribadi (atau lembaga) dan kebutuhan sosial.
6. Membawa kardus-kardus sebagai tempat memasukkan sumbangan. Biasanya permintaan sumbangan ini diikuti dengan tema-tema tertentu, misalnya bencana alam, Prita, Bilqis, panti jompo, dan lain-lain. Mereka terlihat cukup terpercaya dengan menggunakan seragam jaket berwarna tertentu, berpenampilan seperti mahasiswa. Belakangan mereka mengaku dari LSM tertentu, namun yang menjadi permasalahan adalah tidak ada laporan akuntabilitas atas uang sumbangan yang diterima.
7. Tampil beda dengan membawa sebuah karton yang bertuliskan mereka membutuhkan biaya sekolah atau biaya hidup.
Saat ini semakin gencar dilakukan kampanye untuk tidak memberikan uang kepada pengemis, (termasuk dalam bentuk peraturan dan fatwa haram) dan juga pengungkapan berbagai fakta mengenai kekayaan pengemis Masalahnya adalah tidak memberikan uang kepada pengemis ternyata tidak membuat orang berhenti menjadi pengemis. Mereka malah melakukan drama-drama yang lebih menyayat hati, seperti membawa bayi yang masih berumur beberapa minggu, berpanas-panasan dan berhujan-hujan dengan bayinya, menggeserkan badannya di antara roda-roda mobil.
Pemerintah daerah pada dasarnya dengan mudah dapat membasmi pengemis. Lokasi operasi pengemis mudah diketahui. Mereka biasanya beroperasi di jalan-jalan macet, termasuk di perempatan jalan. Pengemis juga mudah ditemukan di berbagai jembatan penyeberangan. Usaha untuk menangkap pengemis juga telah dilakukan tapi kemudian menjadi tayangan yang menyentuh rasa kemanusiaan kita, termasuk pembelaan dari LBH Jakarta yang menyatakan penangkapan pengemis merupakan tindakan kriminal karena Pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja. Akhirnya Pemerintah serba salah dan lebih memilih untuk menghukum orang-orang yang memberikan uangnya kepada pengemis dan masalah pengemis tidak pernah terselesaikan secara tuntas.


Penyebab Kemiskinan
Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan.
• Tingkat dan laju pertumbuhan output
• Tingkat upah neto
• Distribusi pendapatan
• Kesempatan kerja
• Tingkat inflasi
• Pajak dan subsidi
• Investasi
• Alokasi serta kualitas SDA
• Ketersediaan fasilitas umum
• Penggunaan teknologi
• Tingkat dan jenis pendidikan
• Kondisi fisik dan alam
• Politik
• Bencana alam
• Peperangan
Penyebab kemiskinan menurut Kuncoro sebagai berikut :
1. Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah. Dari hasil mereka bekerja
2. kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia karena kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitas juga rendah, upahnyapun rendah
3. kemiskinan muncul sebab perbedaan akses dan modal. Sendalam ismawan, mengutarakan bahwa penyebab kemiskinan dan keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Akibat keterbatasan dan ketertiadaan akses manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tidak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya, kecuali menjalankan apa terpaksa saat ini yang dapat dilakukan (bukan apa yang seharusnya dilakukan).Dengan demikian manusia mempunyai keterbatasan dalam melakukan pilihan, akibatnya potensi manusia untuk mengembangkan hidupnya menjadi terhambat.
4. Kemiskinan karna seseorang malas berusaha untuk dirinya sendiri dikarenakan pergaulan yang membawa mereka menjadi malas sekolah, ataupun belajar.
5. Kemiskinan di karenakan bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor atau kebakaran yang menghabiskan semua harta benda mereka.
Kemisikinan boleh berlaku atas kekurangan individu dan juga atas masalah sosio-ekonomi dalam sesuatu masyarakat. Sehubungan itu, sebab musabab kemisikinan boleh dilihat dari dua dimensi iaitu dimensi individu dan juga dimensi masyarakat.
 Dampak Kemiskinan
a. Dampak Kemiskinan Dimensi individu
Kekurangan individu yang tertentu boleh mencetuskan kemiskinan. Kelemahan individu ini biasanya kelemahan yang ketara dan boleh menyebabkan seseorang itu miskin, walaupun dia berada dalam suatu masyarakat yang penuh dengan peluang rezeki. Kelemahan individu ini adalah seperti berikut:
• Tabiat Berjudi
Tabiat berjudi adalah satu amalan yang menyebabkan sesorang itu miskin. Ini adalah kerana orang yang berjudi, khususnya mereka yang ketagihan berjudi, akan banyak kehilangan harta dalam aktiviti berjudi, dan mereka seringnya hilang tumpuan dalam pekerjaan kerana leka dalam perjudian.

• Ketagihan Dadah
Orang yang ketagihan dadah sukar untuk melaksanakan suatu pekerjaan kerana badan mereka lemah. Mereka juga akan banyak kehilangan harta dalam membeli dadah. Kemisikinan yang dihadapi oleh mereka adalah berpanjangan kerana ketagihan dadah adalah sesuatu yang amat sukar untuk dilepaskan.
• Sakit Badan
• Masalah Personaliti
Pada umumnya, personaliti bermasalah yang menyebabkan kemisikinan ialah sikap malas. Sikap malas itu dicerminkan dalam tingkah laku seperti suka berkhayal, suka beromong kosong, dan juga “elak kerja”. Orang yang malas adalah kekurangan produktiviti dan mereka akan hilang banyak peluang untuk mencari rezeki.
b.         Dimensi Masyarakat
Dari dimensi ini, kemisikinan merupakan sesuatu yang terhasil daripada masalah sosio-ekonomi yang wujud dalam sesuatu masyarakat dan bukanlah sesuatu yang diakibatkan oleh kelemahan individu itu sendiri. Antara sebab musabab kemisikinan yang berhubung dengan masalah masyarakat adalah seperti berikut:

• Konflik
konflik seperti peperangan, rusuhan dan sebagainya akan menyebabkan kegiatan ekonomi terbantut dan ia juga membinasakan infrastruktur yang penting untuk menjana kekayaan. Semua ini akan menyebabkan kemisikinan berlaku.
• Ketidakadilan Sosial
Menurut teori Marxisme, dalam masyarakat yang mengamalkan ekonomi pasaran bebas, kemisikinan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Dalam masyarakat ini, harta cenderung untuk bertumpu kepada golongan yang terkaya, manakala orang yang misikin cenderung menjadi lebih miskin. Ini adalah kerana dalam pasaran bebas, komoditi itu dijualkan kepada mereka yang mampu menawarkan harga yang lebih tinggi. Prinsip ini menyebabkan faktor pengeluargan seperti tanah, cenderung dimiliki oleh golongan terkaya, kerana mereka mempunyai kuasa pembelian yang lebih tinggi. Pemilikikan faktor pengeluaran ini akan menyebabkan orang terkaya ini menjadi lebih kaya, dan mereka akan membeli lebih banyak faktor pengeluaran di pasaran bebas. Proses ini akan berterusan, sehingga golongan terkaya ini memonopoli segala faktor pengeluaran, dan menyebabkan orang lain dalam masyarakat miskin kerana tidak memiliki faktor pengeluaran. Tetapi teori ekonomi marxisme sudah dibukti salah oleh ramai ahli ekonomi. Semua negara yang telah cuba mengikuti cadangan Karl Marx gagal mengurangi kemiskinan. Kini hampir semua ahli ekonomi dan ahli sejarah ekonomi cadangkan ekonomi bebas untuk mengurangi kemiskinan.
Dampak lain kemiskinan suatu bangsa adalah banyaknya pengangguran
a.         Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat.
b. Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum;
c. Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain;

5. Alasan mengapa harus turun ke jalan
1.         Aspek ekonomi
2.         Aspek sejarah dan budaya
3.         Aspek lingkungan
4.         Aspek keluarga
5.         Aspek pendidikan
Pada dasarnya masalah pengemis, pengamen dan gelandangan sangat terkait dengan faktor kemiskinan. Selain itu ada begitu banyak faktor yang menjadikan mereka sebagai pekerja jalanan yang keras dan beresiko, seperti membantu ekonomi keluarga, menjadi korban penculikan, dipaksa bekerja orang lain, dan lain sebagainya.
6.         Cara mengurangi dan menghilangkan kemiskinan dan para pekerja jalanan
–          Kebijakan anti kemiskinan
Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air diperlukan suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam arti cost effectiveness-nya tinggi.
– Ada tiga pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni :
pertumuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang prokemiskinan
Pemerintahan yang baik (good governance),Pembangunan sosial. Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut waktu yaitu :
Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan, Intervensi jangka menengah dan panjang, Pembangunan sektor swasta, Kerjasama regional, APBN dan administrasi, Desentralisasi
Pendidikan dan Kesehatan, Penyediaan air bersih dan Pembangunan perkotaan. Cara mengatasi kemiskinan
• Usaha Individu
Seseorang boleh berusaha untuk menyelesaikan masalah kemiskinan yang dihadapinya oleh dirinya. Pada lazimnya seseorang itu dapat mengatasi kemisikinan dirinya menerusi pendidikan.
• Penyedekahan
Penyedekahan merupakan satu cara yang baik untuk membantu golongan termiskin dalam masyarakat. Tetapi ia tidak dapat mengatasi masalah kemisikinan secara keseluruhan.
• Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi bermaksud penambahan barangan dan perkhidmatan yang ditawarkan dalam pasaran di sesebuah negara. Pembangunan ekonomi merupakan cara yang paling berkesan untuk mengatasi masalah kemiskinan. Tetapi ia harus disertai dengan pengagihan pendapatan yang adil dalam masyarakat. Bank Dunia dan Tabung Kewangan Antarabangsa cadangkan pembangunan ekonomi sebagai faktor yang paling penting dalam mengatasi kemiskinan.
• Pembangunan Masyarakat
Pasaran bebas Milton Friedman dan lain-lain mencadangkan pasaran bebas untuk bagi pembangunan ekonomi dan mengatasi kemiskinan. Jika ada pembangunan ekonomi ada pula pengurangan kemiskinan.
Dampak kemiskinan di Indonesia memunculkan berbagai penyakit pada kelompok risiko tinggi seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan lanjut usia. “Kita mengakui sejak krisis ekonomi tahun 1997 jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat”. kemiskinan yang terjadi di Indonesia menyebabkan cakupan gizi rendah, pemeliharaan kesehatan kurang, lingkungan buruk, dan biaya untuk berobat tidak ada dan biaya perawatan untuk persalinan ibu melahirkan tidak ada bantuan dari pemerintah. Akibat terkena penyakit, katanya pada lokakarya “Pengentasan Kemiskinan Melalui Pengembangan Industri Agromedicine Terpadu”, menyebabkan produktivitas rendah, penghasilan rendah dan pengeluaran bertambah.
Kemiskinan memang tidak pernah berhenti dan tidak bosan menghancurkan cita-cita masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda. Kemiskinan sudah banyak “membutakan” segala aspek seperti pendidikan. Sebagian dari penduduk Indonesia lantaran keterbatasan ekonomi yang tidak mendukung, oleh contoh kecil yang terjadi di lapangan banyak anak yang putus sekolah karena menunggak SPP, siswa SD yang nekat bunuh diri karena malu sering ditagih oleh pihak sekolah, anak di bawah umur bekerja keras dengan tujuan memberi sesuap nasi untuk keluarganya, banyak nya pengamen dan pengemis di ibu kota karna semua ini. Bagaimana Indonesia mau maju kalau generasi muda yang seharusnya sekolah sekarang ikut merasakan korban faktor kemiskinan.

Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Pengangguran
Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang.
Prof. Simon Kuznets mendifinisikan mendifinisikan pertumbuhan ekonomi itu adalah kenaikan pertumbuhan ekonomi itu adalah kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin negara untuk menyediakan semakin banyak barang banyak barang-barang ekonomi kepada barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, sesuai dengan kemajuan teknologi, penyesuaian kelembagaan, dan ideologi penyesuaian kelembagaan, dan ideologi yang diperlukannya yang diperlukannya.
Faktor pertumbuhan ekonomi :
-          akumulasi modal akumulasi modal
-          pertumbuhan penduduk
-          tenaga kerja
-          kemajuan teknologi
Ciri – ciri pertumbuhan ekonomi :
-          Laju Pertumbuhan Penduduk
-          Produk Per Kapita
-          Peningkatan Produktivitas
-          Laju Perubahan Struktural yang Tinggi
-          Urbanisasi
-          Ekspansi Negara Maju
-          Arus Barang, Modal, dan Orang antar bangsa
Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal yaitu masalah pokok makro ekonomi yang paling utama.
Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau tidak bekerja secara optimal. Berdasarkan pengertian diatas, maka pengangguran dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
  1. Pengangguran Terselubung (Disguissed Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
  2. Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
  3. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya dikelompokkan menjadi beberapa  jenis, yaitu  :
a. Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
b. Pengangguran struktural (Struktural Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang. Pengangguran struktuiral bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti :
-          Akibat permintaan berkurang
-          Akibat kemajuan dan pengguanaan teknologi
-          Akibat kebijakan pemerintah          
c. Pengangguran friksional  (Frictional Unemployment) adalah pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja. Pengangguran ini sering disebut pengangguran sukarela.
d. Pengangguran musiman adalah pengangguran yang muncul akibat pergantian musim misalnya pergantian musim tanam ke musim panen.
e. Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin
f. Pengangguran siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian (karena terjadi resesi). Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat (aggrerat demand).
Sebab – sebab terjadinya pengangguran
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengganguran adalah sebagai berikut:
1. Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja
Ketidakseimbangan terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang tersedia. Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi. 
2. Struktur Lapangan Kerja Tidak Seimbang 
3. Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang
Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar daripada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia. Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
4. Meningkatnya peranan dan aspirasi  Angkatan Kerja Wanita dalam seluruh struktur Angkatan Kerja Indonesia
5. Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang
Jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari suatu negara ke negara lainnya.
Dampak terjadinya pengangguran.
Untuk mengetahui dampak pengganguran terhadap per-ekonomian kita perlu mengelompokkan pengaruh pengganguran terhadap dua aspek ekonomi , yaitu:
a. Dampak Pengangguran terhadap  Perekonomian suatu Negara
Tujuan  akhir pembangunan ekonomi suatu negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran di suatu negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan. Hal ini terjadi karena pengganguran berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
   Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.
   Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sektor pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian me-nurun  sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan menurun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.
   Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran akan menye-babkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan Investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomipun tidak akan terpacu.
b. Dampak pengangguran terhadap Individu yang mengalaminya dan Masyarakat
Berikut ini merupakan dampak negatif pengangguran terhadap individu yang mengalaminya dan terhadap masyarakat pada umumnya :
Ø  Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian
Ø  Pengangguran dapat menghilangkan ketrampilan
Ø  Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial politik. 
      c. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran
   Sangat erat hubungannya antara pertumbuhan ekonomi dengan angka pengangguran. Pertumbuhan ekonomi adalah angka kemakmuran suatu negara dengan spesifiknya pendapatan perkapitanya. semakin rendah angka pengganguran di suatu negara maka pertumbuhan ekonomi tinggi disamping dengan faktor lain tidak konstan misalnya wiraswata, suatu negara dikatakan pertumbuhan ekonomi baik bila angka kemandirianya tinggi seperti amerika. jadi ada hubungannya


Pengaruh Pengamen Terhadap Perekonomian
Menurut penelitian Kementerian Sosial terdapat sekitar 4,5 juta anak terlantar (seperti anak jalanan, kurang nutrisi, dan anak berkebutuhan khusus) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Anak jalanan yang jumlahnya keseluruhan mencapai 232.000 anak. Sebanyak 80% diantaranya karena disuruh orang tua bekerja di jalanan, selain karena faktor kemiskinan. Menurut data yang didapat dari Dinas Sosial DKI Jakarta, tahun 2011 tercatat ada sekitar 7.315 anak jalanan di ibu kota Jakarta, dibanding tahun 2010 yang mencapai 5.650 orang atau tahun 2009 sebanyak 3.724 orang. Mereka bekerja sebagai pengelap kaca mobil, pedagang asongan, joki 3 in 1, parkir liar, penyemir sepatu, penjual koran, pencuci kendaraan, menjadi pemulung barang-barang bekas. Sebagian lagi pengemis, pengamen, dan bahkan ada yang menjadi pencuri, pencopet atau terlibat perdagangan sex.
Pemenuhan kebutuhan ekonomi, seringkali dijadikan alasan utama dari keberadaan anak di jalanan. Dengan menggunakan sebagian besar waktunya untuk beraktivitas di jalanan, anak seringkali dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan dan sangat rentan terhadap berbagai persoalan psikologis dan sosial yang sangar mempengaruhi kualitas perkembangan fisik dan psikis mereka. Sebagian besar masyarakat menganggap anak jalanan sebagai gangguan. Mereka diperlakukan sebagai suatu kelompok yang berada di luar lingkungan masyarakat itu sendiri. Anak-anak jalanan akan selalu ada, ketika pembangunan itu sendiri tidak berhasil menghentikan penggusuran terhadap kelompok marjinal perkotaan. Kemiskinan diyakini sebagai faktor utama yang menimbulkan fenomena anak  jalanan. Keluarga yang miskin cenderung menyuruh anak mereka bekerja. Selain itu, tidak sedikit anak-anak yang menjadi anak jalanan karena keluarga tidak harmonis, ditelantarkan oleh keluarganya, atau karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Dan program-program anak jalanan lebih banyak dibuat bukan untuk kepentingan anak jalanan dan tidak menempatkan sebagai dirinya sendiri. Anak-anak tidak boleh hidup di jalanan karena jalanan bukan tempat yang pantas bagi mereka. Mereka seharusnya hidup bersama orangtua dan saudara di rumah yang hangat dan bersahabat, selayaknya bermain dan belajar di sekolah atau di tempat yang pantas untuk itu. Jalanan memiliki resiko yang sangat berbahaya bagi anak dan bukanlah lingkungan yang baik untuk proses tumbuh-kembang anak dan merealisasikan potensinya secara penuh.

SUMBER: