Hubungan
Pengemis Dalam Perekonomian
Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan
penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan
untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Di masa lalu, menjadi
pengemis merupakan suatu keterpaksaan, saat ini merupakan suatu pilihan yang
dilakukan dengan sukarela. Daya tarik yang mengundang banyak orang ini pada
akhirnya menimbulkan persaingan di antara sesama pengemis. Salah satu dampak
dari persaingan adalah timbulnya koordinator lapangan, yang mengatur jumlah
pengemis di setiap titik sekaligus mencari titik-titik yang berpotensi untuk
menghasilkan pendapatan. Selain itu, pengemispun juga harus menggunakan
berbagai strategi untuk menarik perhatian dan mendorong orang untuk memberikan
uang kepada mereka. Jika di masa lalu, penampilan umum pengemis adalah dengan
baju yang kumuh, wajah yang kotor dan memelas, serta perilaku yang menunjukkan
kecacatannya, maka sekarang ini berbagai strategi mereka lakukan, seperti:
1. Berdiri di tengah terik matahari dengan cucuran keringat.
2. Menunjukkan bukti bahwa mereka cacat, misalnya dengan tidak menggunakan baju atau menggulung celananya. Saya pernah melihat seorang pengemis berbadan tegap bertelanjang dada untuk menunjukkan bahwa dia kehilangan satu tangan, suatu gabungan antara cacat dengan badan yang sehat. Strategi ini dilakukan karena banyak pengemis yang berpura-pura cacat, misalnya dengan menyembunyikan tangan atau kakinya dibalik pakaiannya.
3. Duduk atau menggeletak di tengah jalan, di antara mobil-mobil, sehingga menimbulkan lebih banyak perhatian bagi pengemudi agar tidak menabrak mereka dan lebih memudahkan pengendara memberikan uang.
4. Menggendong anak kecil atau langsung menggunakan anak kecil untuk mengemis. Penggunaan anak kecil biasanya lebih efektif dalam memancing perhatian dan belas kasihan, karena itu semakin banyak pengemis yang menggunakan anak dalam bekerja. Dengan semakin banyaknya pengemis menggunakan strategi ini, maka berkuranglah efektivitasnya. Lalu mereka bersaing dengan menggunakan anak yang semakin kecil ataupun bayi. Seorang kompasioner pernah bercerita bertemu dengan pengemis yang membawa bayinya yang masih berumur beberapa minggu.
5. Membawa formulir sumbangan entah dari mesjid atau panti asuhan mana karena surat permohonan yang terbungkus plastik sudah kotor untuk dibaca. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang anak yang menyerbu saya, masing-masing membawa lembar dari mesjid/panti asuhan yang berbeda. Strategi ini cocok untuk menarik perhatian dan uang dari orang yang enggan memberi uang untuk pengemis tapi senang untuk menyumbang mesjid/panti asuhan. Model permintaan sumbangan ini bukan gagasan orisinil dari pengemis. Mereka mungkin belajar dari permintaan sumbangan yayasan sosial yang didirikan pejabat tinggi negara ataupun permintaan sumbangan dari pensiunan pegawai tertentu, yang juga banyak menghadapi permasalahan akuntabilitas, tercampur untuk kebutuhan pribadi (atau lembaga) dan kebutuhan sosial.
6. Membawa kardus-kardus sebagai tempat memasukkan sumbangan. Biasanya permintaan sumbangan ini diikuti dengan tema-tema tertentu, misalnya bencana alam, Prita, Bilqis, panti jompo, dan lain-lain. Mereka terlihat cukup terpercaya dengan menggunakan seragam jaket berwarna tertentu, berpenampilan seperti mahasiswa. Belakangan mereka mengaku dari LSM tertentu, namun yang menjadi permasalahan adalah tidak ada laporan akuntabilitas atas uang sumbangan yang diterima.
7. Tampil beda dengan membawa sebuah karton yang bertuliskan mereka membutuhkan biaya sekolah atau biaya hidup.
Saat ini semakin gencar dilakukan kampanye untuk tidak memberikan uang kepada pengemis, (termasuk dalam bentuk peraturan dan fatwa haram) dan juga pengungkapan berbagai fakta mengenai kekayaan pengemis Masalahnya adalah tidak memberikan uang kepada pengemis ternyata tidak membuat orang berhenti menjadi pengemis. Mereka malah melakukan drama-drama yang lebih menyayat hati, seperti membawa bayi yang masih berumur beberapa minggu, berpanas-panasan dan berhujan-hujan dengan bayinya, menggeserkan badannya di antara roda-roda mobil.
Pemerintah daerah pada dasarnya dengan mudah dapat membasmi pengemis. Lokasi operasi pengemis mudah diketahui. Mereka biasanya beroperasi di jalan-jalan macet, termasuk di perempatan jalan. Pengemis juga mudah ditemukan di berbagai jembatan penyeberangan. Usaha untuk menangkap pengemis juga telah dilakukan tapi kemudian menjadi tayangan yang menyentuh rasa kemanusiaan kita, termasuk pembelaan dari LBH Jakarta yang menyatakan penangkapan pengemis merupakan tindakan kriminal karena Pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja. Akhirnya Pemerintah serba salah dan lebih memilih untuk menghukum orang-orang yang memberikan uangnya kepada pengemis dan masalah pengemis tidak pernah terselesaikan secara tuntas.
1. Berdiri di tengah terik matahari dengan cucuran keringat.
2. Menunjukkan bukti bahwa mereka cacat, misalnya dengan tidak menggunakan baju atau menggulung celananya. Saya pernah melihat seorang pengemis berbadan tegap bertelanjang dada untuk menunjukkan bahwa dia kehilangan satu tangan, suatu gabungan antara cacat dengan badan yang sehat. Strategi ini dilakukan karena banyak pengemis yang berpura-pura cacat, misalnya dengan menyembunyikan tangan atau kakinya dibalik pakaiannya.
3. Duduk atau menggeletak di tengah jalan, di antara mobil-mobil, sehingga menimbulkan lebih banyak perhatian bagi pengemudi agar tidak menabrak mereka dan lebih memudahkan pengendara memberikan uang.
4. Menggendong anak kecil atau langsung menggunakan anak kecil untuk mengemis. Penggunaan anak kecil biasanya lebih efektif dalam memancing perhatian dan belas kasihan, karena itu semakin banyak pengemis yang menggunakan anak dalam bekerja. Dengan semakin banyaknya pengemis menggunakan strategi ini, maka berkuranglah efektivitasnya. Lalu mereka bersaing dengan menggunakan anak yang semakin kecil ataupun bayi. Seorang kompasioner pernah bercerita bertemu dengan pengemis yang membawa bayinya yang masih berumur beberapa minggu.
5. Membawa formulir sumbangan entah dari mesjid atau panti asuhan mana karena surat permohonan yang terbungkus plastik sudah kotor untuk dibaca. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang anak yang menyerbu saya, masing-masing membawa lembar dari mesjid/panti asuhan yang berbeda. Strategi ini cocok untuk menarik perhatian dan uang dari orang yang enggan memberi uang untuk pengemis tapi senang untuk menyumbang mesjid/panti asuhan. Model permintaan sumbangan ini bukan gagasan orisinil dari pengemis. Mereka mungkin belajar dari permintaan sumbangan yayasan sosial yang didirikan pejabat tinggi negara ataupun permintaan sumbangan dari pensiunan pegawai tertentu, yang juga banyak menghadapi permasalahan akuntabilitas, tercampur untuk kebutuhan pribadi (atau lembaga) dan kebutuhan sosial.
6. Membawa kardus-kardus sebagai tempat memasukkan sumbangan. Biasanya permintaan sumbangan ini diikuti dengan tema-tema tertentu, misalnya bencana alam, Prita, Bilqis, panti jompo, dan lain-lain. Mereka terlihat cukup terpercaya dengan menggunakan seragam jaket berwarna tertentu, berpenampilan seperti mahasiswa. Belakangan mereka mengaku dari LSM tertentu, namun yang menjadi permasalahan adalah tidak ada laporan akuntabilitas atas uang sumbangan yang diterima.
7. Tampil beda dengan membawa sebuah karton yang bertuliskan mereka membutuhkan biaya sekolah atau biaya hidup.
Saat ini semakin gencar dilakukan kampanye untuk tidak memberikan uang kepada pengemis, (termasuk dalam bentuk peraturan dan fatwa haram) dan juga pengungkapan berbagai fakta mengenai kekayaan pengemis Masalahnya adalah tidak memberikan uang kepada pengemis ternyata tidak membuat orang berhenti menjadi pengemis. Mereka malah melakukan drama-drama yang lebih menyayat hati, seperti membawa bayi yang masih berumur beberapa minggu, berpanas-panasan dan berhujan-hujan dengan bayinya, menggeserkan badannya di antara roda-roda mobil.
Pemerintah daerah pada dasarnya dengan mudah dapat membasmi pengemis. Lokasi operasi pengemis mudah diketahui. Mereka biasanya beroperasi di jalan-jalan macet, termasuk di perempatan jalan. Pengemis juga mudah ditemukan di berbagai jembatan penyeberangan. Usaha untuk menangkap pengemis juga telah dilakukan tapi kemudian menjadi tayangan yang menyentuh rasa kemanusiaan kita, termasuk pembelaan dari LBH Jakarta yang menyatakan penangkapan pengemis merupakan tindakan kriminal karena Pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja. Akhirnya Pemerintah serba salah dan lebih memilih untuk menghukum orang-orang yang memberikan uangnya kepada pengemis dan masalah pengemis tidak pernah terselesaikan secara tuntas.
Penyebab
Kemiskinan
Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab
kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana
yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan
tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan.
• Tingkat dan laju pertumbuhan output
• Tingkat upah neto
• Distribusi pendapatan
• Kesempatan kerja
• Tingkat inflasi
• Pajak dan subsidi
• Investasi
• Alokasi serta kualitas SDA
• Ketersediaan fasilitas umum
• Penggunaan teknologi
• Tingkat dan jenis pendidikan
• Kondisi fisik dan alam
• Politik
• Bencana alam
• Peperangan
Penyebab kemiskinan menurut Kuncoro sebagai berikut
:
1. Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya
ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi
pendapatan penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang
terbatas dan kualitasnya rendah. Dari hasil mereka bekerja
2. kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas
sumber daya manusia karena kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti
produktivitas juga rendah, upahnyapun rendah
3. kemiskinan muncul sebab perbedaan akses dan
modal. Sendalam ismawan, mengutarakan bahwa penyebab kemiskinan dan
keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Akibat keterbatasan dan
ketertiadaan akses manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tidak ada) pilihan
untuk mengembangkan hidupnya, kecuali menjalankan apa terpaksa saat ini yang
dapat dilakukan (bukan apa yang seharusnya dilakukan).Dengan demikian manusia
mempunyai keterbatasan dalam melakukan pilihan, akibatnya potensi manusia untuk
mengembangkan hidupnya menjadi terhambat.
4. Kemiskinan karna seseorang malas berusaha untuk
dirinya sendiri dikarenakan pergaulan yang membawa mereka menjadi malas
sekolah, ataupun belajar.
5. Kemiskinan di karenakan bencana alam seperti
banjir bandang dan tanah longsor atau kebakaran yang menghabiskan semua harta
benda mereka.
Kemisikinan boleh berlaku atas kekurangan individu
dan juga atas masalah sosio-ekonomi dalam sesuatu masyarakat. Sehubungan itu,
sebab musabab kemisikinan boleh dilihat dari dua dimensi iaitu dimensi individu
dan juga dimensi masyarakat.
Dampak Kemiskinan
a. Dampak Kemiskinan Dimensi individu
Kekurangan individu yang tertentu boleh mencetuskan
kemiskinan. Kelemahan individu ini biasanya kelemahan yang ketara dan boleh
menyebabkan seseorang itu miskin, walaupun dia berada dalam suatu masyarakat
yang penuh dengan peluang rezeki. Kelemahan individu ini adalah seperti
berikut:
• Tabiat Berjudi
Tabiat berjudi adalah satu amalan yang menyebabkan
sesorang itu miskin. Ini adalah kerana orang yang berjudi, khususnya mereka
yang ketagihan berjudi, akan banyak kehilangan harta dalam aktiviti berjudi,
dan mereka seringnya hilang tumpuan dalam pekerjaan kerana leka dalam
perjudian.
• Ketagihan Dadah
Orang yang ketagihan dadah sukar untuk melaksanakan
suatu pekerjaan kerana badan mereka lemah. Mereka juga akan banyak kehilangan
harta dalam membeli dadah. Kemisikinan yang dihadapi oleh mereka adalah
berpanjangan kerana ketagihan dadah adalah sesuatu yang amat sukar untuk
dilepaskan.
• Sakit Badan
• Masalah Personaliti
Pada umumnya, personaliti bermasalah yang
menyebabkan kemisikinan ialah sikap malas. Sikap malas itu dicerminkan dalam
tingkah laku seperti suka berkhayal, suka beromong kosong, dan juga “elak
kerja”. Orang yang malas adalah kekurangan produktiviti dan mereka akan hilang
banyak peluang untuk mencari rezeki.
b. Dimensi
Masyarakat
Dari dimensi ini, kemisikinan merupakan sesuatu yang
terhasil daripada masalah sosio-ekonomi yang wujud dalam sesuatu masyarakat dan
bukanlah sesuatu yang diakibatkan oleh kelemahan individu itu sendiri. Antara
sebab musabab kemisikinan yang berhubung dengan masalah masyarakat adalah
seperti berikut:
• Konflik
konflik seperti peperangan, rusuhan dan sebagainya
akan menyebabkan kegiatan ekonomi terbantut dan ia juga membinasakan infrastruktur
yang penting untuk menjana kekayaan. Semua ini akan menyebabkan kemisikinan
berlaku.
• Ketidakadilan Sosial
Menurut teori Marxisme, dalam masyarakat yang
mengamalkan ekonomi pasaran bebas, kemisikinan adalah sesuatu yang tidak dapat
dielakkan. Dalam masyarakat ini, harta cenderung untuk bertumpu kepada golongan
yang terkaya, manakala orang yang misikin cenderung menjadi lebih miskin. Ini
adalah kerana dalam pasaran bebas, komoditi itu dijualkan kepada mereka yang
mampu menawarkan harga yang lebih tinggi. Prinsip ini menyebabkan faktor
pengeluargan seperti tanah, cenderung dimiliki oleh golongan terkaya, kerana
mereka mempunyai kuasa pembelian yang lebih tinggi. Pemilikikan faktor
pengeluaran ini akan menyebabkan orang terkaya ini menjadi lebih kaya, dan
mereka akan membeli lebih banyak faktor pengeluaran di pasaran bebas. Proses
ini akan berterusan, sehingga golongan terkaya ini memonopoli segala faktor
pengeluaran, dan menyebabkan orang lain dalam masyarakat miskin kerana tidak
memiliki faktor pengeluaran. Tetapi teori ekonomi marxisme sudah dibukti salah
oleh ramai ahli ekonomi. Semua negara yang telah cuba mengikuti cadangan Karl
Marx gagal mengurangi kemiskinan. Kini hampir semua ahli ekonomi dan ahli
sejarah ekonomi cadangkan ekonomi bebas untuk mengurangi kemiskinan.
Dampak lain kemiskinan suatu bangsa adalah banyaknya
pengangguran
a. Pengangguran
adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan
tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat
pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat.
b. Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam
keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat
setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di
wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum;
c. Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan
penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan
untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain;
5. Alasan mengapa harus turun ke jalan
1. Aspek
ekonomi
2. Aspek
sejarah dan budaya
3. Aspek
lingkungan
4. Aspek
keluarga
5. Aspek
pendidikan
Pada dasarnya masalah pengemis, pengamen dan
gelandangan sangat terkait dengan faktor kemiskinan. Selain itu ada begitu
banyak faktor yang menjadikan mereka sebagai pekerja jalanan yang keras dan
beresiko, seperti membantu ekonomi keluarga, menjadi korban penculikan, dipaksa
bekerja orang lain, dan lain sebagainya.
6. Cara
mengurangi dan menghilangkan kemiskinan dan para pekerja jalanan
– Kebijakan
anti kemiskinan
Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di
tanah air diperlukan suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam
arti cost effectiveness-nya tinggi.
– Ada tiga pilar utama strategi pengurangan
kemiskinan, yakni :
pertumuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang
prokemiskinan
Pemerintahan yang baik (good governance),Pembangunan
sosial. Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi
pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut
waktu yaitu :
Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan
sektor pertanian dan ekonomi pedesaan, Intervensi jangka menengah dan panjang,
Pembangunan sektor swasta, Kerjasama regional, APBN dan administrasi,
Desentralisasi
Pendidikan dan Kesehatan, Penyediaan air bersih dan
Pembangunan perkotaan. Cara mengatasi kemiskinan
• Usaha Individu
Seseorang boleh berusaha untuk menyelesaikan masalah
kemiskinan yang dihadapinya oleh dirinya. Pada lazimnya seseorang itu dapat
mengatasi kemisikinan dirinya menerusi pendidikan.
• Penyedekahan
Penyedekahan merupakan satu cara yang baik untuk
membantu golongan termiskin dalam masyarakat. Tetapi ia tidak dapat mengatasi
masalah kemisikinan secara keseluruhan.
• Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi bermaksud penambahan barangan
dan perkhidmatan yang ditawarkan dalam pasaran di sesebuah negara. Pembangunan
ekonomi merupakan cara yang paling berkesan untuk mengatasi masalah kemiskinan.
Tetapi ia harus disertai dengan pengagihan pendapatan yang adil dalam
masyarakat. Bank Dunia dan Tabung Kewangan Antarabangsa cadangkan pembangunan
ekonomi sebagai faktor yang paling penting dalam mengatasi kemiskinan.
• Pembangunan Masyarakat
Pasaran bebas Milton Friedman dan lain-lain
mencadangkan pasaran bebas untuk bagi pembangunan ekonomi dan mengatasi
kemiskinan. Jika ada pembangunan ekonomi ada pula pengurangan kemiskinan.
Dampak kemiskinan di Indonesia memunculkan berbagai
penyakit pada kelompok risiko tinggi seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi,
balita, dan lanjut usia. “Kita mengakui sejak krisis ekonomi tahun 1997 jumlah
penduduk miskin di Indonesia meningkat”. kemiskinan yang terjadi di Indonesia
menyebabkan cakupan gizi rendah, pemeliharaan kesehatan kurang, lingkungan
buruk, dan biaya untuk berobat tidak ada dan biaya perawatan untuk persalinan
ibu melahirkan tidak ada bantuan dari pemerintah. Akibat terkena penyakit,
katanya pada lokakarya “Pengentasan Kemiskinan Melalui Pengembangan Industri
Agromedicine Terpadu”, menyebabkan produktivitas rendah, penghasilan rendah dan
pengeluaran bertambah.
Kemiskinan memang tidak pernah berhenti dan tidak
bosan menghancurkan cita-cita masyarakat Indonesia khususnya para generasi
muda. Kemiskinan sudah banyak “membutakan” segala aspek seperti pendidikan.
Sebagian dari penduduk Indonesia lantaran keterbatasan ekonomi yang tidak
mendukung, oleh contoh kecil yang terjadi di lapangan banyak anak yang putus
sekolah karena menunggak SPP, siswa SD yang nekat bunuh diri karena malu sering
ditagih oleh pihak sekolah, anak di bawah umur bekerja keras dengan tujuan
memberi sesuap nasi untuk keluarganya, banyak nya pengamen dan pengemis di ibu
kota karna semua ini. Bagaimana Indonesia mau maju kalau generasi muda yang
seharusnya sekolah sekarang ikut merasakan korban faktor kemiskinan.
Hubungan
Antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Pengangguran
Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi
kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi
perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output
riil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi
terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan
kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang.
Prof. Simon Kuznets mendifinisikan mendifinisikan
pertumbuhan ekonomi itu adalah kenaikan pertumbuhan ekonomi itu adalah kenaikan
jangka panjang dalam kemampuan suatu jangka panjang dalam kemampuan suatu
negara untuk menyediakan semakin negara untuk menyediakan semakin banyak barang
banyak barang-barang ekonomi kepada barang ekonomi kepada penduduknya.
Kemampuan ini tumbuh penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan
teknologi, sesuai dengan kemajuan teknologi, penyesuaian kelembagaan, dan
ideologi penyesuaian kelembagaan, dan ideologi yang diperlukannya yang
diperlukannya.
Faktor pertumbuhan ekonomi :
- akumulasi
modal akumulasi modal
- pertumbuhan
penduduk
- tenaga
kerja
- kemajuan
teknologi
Ciri – ciri pertumbuhan ekonomi :
- Laju
Pertumbuhan Penduduk
- Produk
Per Kapita
- Peningkatan
Produktivitas
- Laju
Perubahan Struktural yang Tinggi
- Urbanisasi
- Ekspansi
Negara Maju
- Arus
Barang, Modal, dan Orang antar bangsa
Pengangguran adalah seseorang yang tergolong
angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.
Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat
kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal yaitu masalah pokok makro
ekonomi yang paling utama.
Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja
yang belum bekerja atau tidak bekerja secara optimal. Berdasarkan pengertian
diatas, maka pengangguran dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
- Pengangguran Terselubung
(Disguissed Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal
karena suatu alasan tertentu.
- Setengah Menganggur (Under
Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena
tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur
ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama
seminggu.
- Pengangguran Terbuka (Open
Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai
pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum
mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab
terjadinya dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu :
a. Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment)
adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya)
kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
b. Pengangguran struktural (Struktural Unemployment)
adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak
ekonomi dalam jangka panjang. Pengangguran struktuiral bisa diakibatkan oleh
beberapa kemungkinan, seperti :
- Akibat
permintaan berkurang
- Akibat
kemajuan dan pengguanaan teknologi
- Akibat
kebijakan pemerintah
c. Pengangguran friksional (Frictional
Unemployment) adalah pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian
antara pemberi kerja dan pencari kerja. Pengangguran ini sering disebut
pengangguran sukarela.
d. Pengangguran musiman adalah pengangguran yang
muncul akibat pergantian musim misalnya pergantian musim tanam ke musim panen.
e. Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang
terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga
mesin-mesin
f. Pengangguran siklus adalah pengangguran yang
diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian (karena terjadi resesi).
Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat (aggrerat
demand).
Sebab – sebab terjadinya pengangguran
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
pengganguran adalah sebagai berikut:
1. Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan
Kesempatan Kerja
Ketidakseimbangan terjadi apabila jumlah angkatan
kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang tersedia. Kondisi sebaliknya
sangat jarang terjadi.
2. Struktur Lapangan Kerja Tidak Seimbang
3. Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan
penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang
Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih
besar daripada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi.
Alasannya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang
dibutuhkan dan yang tersedia. Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian
tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
4. Meningkatnya peranan dan aspirasi Angkatan
Kerja Wanita dalam seluruh struktur Angkatan Kerja Indonesia
5. Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar
daerah tidak seimbang
Jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja
lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di daerah lainnya dapat terjadi
keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga
kerja dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari suatu negara ke negara
lainnya.
Dampak
terjadinya pengangguran.
Untuk mengetahui dampak pengganguran terhadap
per-ekonomian kita perlu mengelompokkan pengaruh pengganguran terhadap dua
aspek ekonomi , yaitu:
a.
Dampak Pengangguran terhadap Perekonomian suatu Negara
Tujuan akhir pembangunan ekonomi suatu negara
pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi
agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran di
suatu negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan
pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan. Hal ini terjadi karena
pengganguran berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian, seperti yang
dijelaskan di bawah ini:
Pengangguran bisa menyebabkan
masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Hal
ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil
(nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial
(pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh
masyarakat pun akan lebih rendah.
Pengangguran akan menyebabkan
pendapatan nasional yang berasal dari sektor pajak berkurang. Hal ini terjadi
karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian
me-nurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan
demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan menurun. Jika
penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan
berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.
Pengangguran tidak menggalakkan
pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran akan menye-babkan daya beli masyarakat
akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil produksi akan
berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan Investor (pengusaha)
untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat
investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomipun tidak akan terpacu.
b.
Dampak pengangguran terhadap Individu yang mengalaminya dan Masyarakat
Berikut ini merupakan dampak negatif pengangguran
terhadap individu yang mengalaminya dan terhadap masyarakat pada umumnya :
Ø Pengangguran
dapat menghilangkan mata pencaharian
Ø Pengangguran
dapat menghilangkan ketrampilan
Ø Pengangguran
akan menimbulkan ketidakstabilan sosial politik.
c. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran
Sangat erat hubungannya antara
pertumbuhan ekonomi dengan angka pengangguran. Pertumbuhan ekonomi adalah
angka kemakmuran suatu negara dengan spesifiknya pendapatan perkapitanya.
semakin rendah angka pengganguran di suatu negara maka pertumbuhan ekonomi
tinggi disamping dengan faktor lain tidak konstan misalnya wiraswata, suatu
negara dikatakan pertumbuhan ekonomi baik bila angka kemandirianya tinggi
seperti amerika. jadi ada hubungannya
Pengaruh
Pengamen Terhadap Perekonomian
Menurut penelitian Kementerian Sosial terdapat
sekitar 4,5 juta anak terlantar (seperti anak jalanan, kurang nutrisi, dan anak
berkebutuhan khusus) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Anak
jalanan yang jumlahnya keseluruhan mencapai 232.000 anak. Sebanyak 80%
diantaranya karena disuruh orang tua bekerja di jalanan, selain karena faktor
kemiskinan. Menurut data yang didapat dari Dinas Sosial DKI Jakarta, tahun 2011
tercatat ada sekitar 7.315 anak jalanan di ibu kota Jakarta, dibanding tahun 2010
yang mencapai 5.650 orang atau tahun 2009 sebanyak 3.724 orang. Mereka bekerja
sebagai pengelap kaca mobil, pedagang asongan, joki 3 in 1, parkir liar,
penyemir sepatu, penjual koran, pencuci kendaraan, menjadi pemulung
barang-barang bekas. Sebagian lagi pengemis, pengamen, dan bahkan ada yang
menjadi pencuri, pencopet atau terlibat perdagangan sex.
Pemenuhan kebutuhan ekonomi, seringkali dijadikan
alasan utama dari keberadaan anak di jalanan. Dengan menggunakan sebagian besar
waktunya untuk beraktivitas di jalanan, anak seringkali dihadapkan pada situasi
yang tidak menguntungkan dan sangat rentan terhadap berbagai persoalan
psikologis dan sosial yang sangar mempengaruhi kualitas perkembangan fisik dan
psikis mereka. Sebagian besar masyarakat menganggap anak jalanan sebagai
gangguan. Mereka diperlakukan sebagai suatu kelompok yang berada di luar
lingkungan masyarakat itu sendiri. Anak-anak jalanan akan selalu ada, ketika
pembangunan itu sendiri tidak berhasil menghentikan penggusuran terhadap
kelompok marjinal perkotaan. Kemiskinan diyakini sebagai faktor utama yang
menimbulkan fenomena anak jalanan. Keluarga yang miskin cenderung
menyuruh anak mereka bekerja. Selain itu, tidak sedikit anak-anak yang menjadi
anak jalanan karena keluarga tidak harmonis, ditelantarkan oleh keluarganya,
atau karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Dan program-program anak
jalanan lebih banyak dibuat bukan untuk kepentingan anak jalanan dan tidak
menempatkan sebagai dirinya sendiri. Anak-anak tidak boleh hidup di jalanan karena
jalanan bukan tempat yang pantas bagi mereka. Mereka seharusnya hidup
bersama orangtua dan saudara di rumah yang hangat dan bersahabat, selayaknya
bermain dan belajar di sekolah atau di tempat yang pantas untuk itu. Jalanan
memiliki resiko yang sangat berbahaya bagi anak dan bukanlah
lingkungan yang baik untuk proses tumbuh-kembang anak dan merealisasikan
potensinya secara penuh.
SUMBER:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar