Kamis, 31 Desember 2015

Tulisan ke-9: Hubungan Pengemis, Pengamen dan Pengangguran Dalam Perekonomian

Hubungan Pengemis Dalam Perekonomian
Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Di masa lalu, menjadi pengemis merupakan suatu keterpaksaan, saat ini merupakan suatu pilihan yang dilakukan dengan sukarela. Daya tarik yang mengundang banyak orang ini pada akhirnya menimbulkan persaingan di antara sesama pengemis. Salah satu dampak dari persaingan adalah timbulnya koordinator lapangan, yang mengatur jumlah pengemis di setiap titik sekaligus mencari titik-titik yang berpotensi untuk menghasilkan pendapatan. Selain itu, pengemispun juga harus menggunakan berbagai strategi untuk menarik perhatian dan mendorong orang untuk memberikan uang kepada mereka. Jika di masa lalu, penampilan umum pengemis adalah dengan baju yang kumuh, wajah yang kotor dan memelas, serta perilaku yang menunjukkan kecacatannya, maka sekarang ini berbagai strategi mereka lakukan, seperti:
1. Berdiri di tengah terik matahari dengan cucuran keringat.
2. Menunjukkan bukti bahwa mereka cacat, misalnya dengan tidak menggunakan baju atau menggulung celananya. Saya pernah melihat seorang pengemis berbadan tegap bertelanjang dada untuk menunjukkan bahwa dia kehilangan satu tangan, suatu gabungan antara cacat dengan badan yang sehat. Strategi ini dilakukan karena banyak pengemis yang berpura-pura cacat, misalnya dengan menyembunyikan tangan atau kakinya dibalik pakaiannya.
3. Duduk atau menggeletak di tengah jalan, di antara mobil-mobil, sehingga menimbulkan lebih banyak perhatian bagi pengemudi agar tidak menabrak mereka dan lebih memudahkan pengendara memberikan uang.
4. Menggendong anak kecil atau langsung menggunakan anak kecil untuk mengemis. Penggunaan anak kecil biasanya lebih efektif dalam memancing perhatian dan belas kasihan, karena itu semakin banyak pengemis yang menggunakan anak dalam bekerja. Dengan semakin banyaknya pengemis menggunakan strategi ini, maka berkuranglah efektivitasnya. Lalu mereka bersaing dengan menggunakan anak yang semakin kecil ataupun bayi. Seorang kompasioner pernah bercerita bertemu dengan pengemis yang membawa bayinya yang masih berumur beberapa minggu.
5. Membawa formulir sumbangan entah dari mesjid atau panti asuhan mana karena surat permohonan yang terbungkus plastik sudah kotor untuk dibaca. Saya pernah bertemu dengan beberapa orang anak yang menyerbu saya, masing-masing membawa lembar dari mesjid/panti asuhan yang berbeda. Strategi ini cocok untuk menarik perhatian dan uang dari orang yang enggan memberi uang untuk pengemis tapi senang untuk menyumbang mesjid/panti asuhan. Model permintaan sumbangan ini bukan gagasan orisinil dari pengemis. Mereka mungkin belajar dari permintaan sumbangan yayasan sosial yang didirikan pejabat tinggi negara ataupun permintaan sumbangan dari pensiunan pegawai tertentu, yang juga banyak menghadapi permasalahan akuntabilitas, tercampur untuk kebutuhan pribadi (atau lembaga) dan kebutuhan sosial.
6. Membawa kardus-kardus sebagai tempat memasukkan sumbangan. Biasanya permintaan sumbangan ini diikuti dengan tema-tema tertentu, misalnya bencana alam, Prita, Bilqis, panti jompo, dan lain-lain. Mereka terlihat cukup terpercaya dengan menggunakan seragam jaket berwarna tertentu, berpenampilan seperti mahasiswa. Belakangan mereka mengaku dari LSM tertentu, namun yang menjadi permasalahan adalah tidak ada laporan akuntabilitas atas uang sumbangan yang diterima.
7. Tampil beda dengan membawa sebuah karton yang bertuliskan mereka membutuhkan biaya sekolah atau biaya hidup.
Saat ini semakin gencar dilakukan kampanye untuk tidak memberikan uang kepada pengemis, (termasuk dalam bentuk peraturan dan fatwa haram) dan juga pengungkapan berbagai fakta mengenai kekayaan pengemis Masalahnya adalah tidak memberikan uang kepada pengemis ternyata tidak membuat orang berhenti menjadi pengemis. Mereka malah melakukan drama-drama yang lebih menyayat hati, seperti membawa bayi yang masih berumur beberapa minggu, berpanas-panasan dan berhujan-hujan dengan bayinya, menggeserkan badannya di antara roda-roda mobil.
Pemerintah daerah pada dasarnya dengan mudah dapat membasmi pengemis. Lokasi operasi pengemis mudah diketahui. Mereka biasanya beroperasi di jalan-jalan macet, termasuk di perempatan jalan. Pengemis juga mudah ditemukan di berbagai jembatan penyeberangan. Usaha untuk menangkap pengemis juga telah dilakukan tapi kemudian menjadi tayangan yang menyentuh rasa kemanusiaan kita, termasuk pembelaan dari LBH Jakarta yang menyatakan penangkapan pengemis merupakan tindakan kriminal karena Pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja. Akhirnya Pemerintah serba salah dan lebih memilih untuk menghukum orang-orang yang memberikan uangnya kepada pengemis dan masalah pengemis tidak pernah terselesaikan secara tuntas.


Penyebab Kemiskinan
Tidak sulit mencari faktor-faktor penyebab kemiskinan, tetapi dari faktor-faktor tersebut sangat sulit memastikan mana yang merupakan penyebab sebenarnya serta mana yang berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap perubahan kemiskinan.
• Tingkat dan laju pertumbuhan output
• Tingkat upah neto
• Distribusi pendapatan
• Kesempatan kerja
• Tingkat inflasi
• Pajak dan subsidi
• Investasi
• Alokasi serta kualitas SDA
• Ketersediaan fasilitas umum
• Penggunaan teknologi
• Tingkat dan jenis pendidikan
• Kondisi fisik dan alam
• Politik
• Bencana alam
• Peperangan
Penyebab kemiskinan menurut Kuncoro sebagai berikut :
1. Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah. Dari hasil mereka bekerja
2. kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia karena kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitas juga rendah, upahnyapun rendah
3. kemiskinan muncul sebab perbedaan akses dan modal. Sendalam ismawan, mengutarakan bahwa penyebab kemiskinan dan keterbelakangan adalah persoalan aksesibilitas. Akibat keterbatasan dan ketertiadaan akses manusia mempunyai keterbatasan (bahkan tidak ada) pilihan untuk mengembangkan hidupnya, kecuali menjalankan apa terpaksa saat ini yang dapat dilakukan (bukan apa yang seharusnya dilakukan).Dengan demikian manusia mempunyai keterbatasan dalam melakukan pilihan, akibatnya potensi manusia untuk mengembangkan hidupnya menjadi terhambat.
4. Kemiskinan karna seseorang malas berusaha untuk dirinya sendiri dikarenakan pergaulan yang membawa mereka menjadi malas sekolah, ataupun belajar.
5. Kemiskinan di karenakan bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor atau kebakaran yang menghabiskan semua harta benda mereka.
Kemisikinan boleh berlaku atas kekurangan individu dan juga atas masalah sosio-ekonomi dalam sesuatu masyarakat. Sehubungan itu, sebab musabab kemisikinan boleh dilihat dari dua dimensi iaitu dimensi individu dan juga dimensi masyarakat.
 Dampak Kemiskinan
a. Dampak Kemiskinan Dimensi individu
Kekurangan individu yang tertentu boleh mencetuskan kemiskinan. Kelemahan individu ini biasanya kelemahan yang ketara dan boleh menyebabkan seseorang itu miskin, walaupun dia berada dalam suatu masyarakat yang penuh dengan peluang rezeki. Kelemahan individu ini adalah seperti berikut:
• Tabiat Berjudi
Tabiat berjudi adalah satu amalan yang menyebabkan sesorang itu miskin. Ini adalah kerana orang yang berjudi, khususnya mereka yang ketagihan berjudi, akan banyak kehilangan harta dalam aktiviti berjudi, dan mereka seringnya hilang tumpuan dalam pekerjaan kerana leka dalam perjudian.

• Ketagihan Dadah
Orang yang ketagihan dadah sukar untuk melaksanakan suatu pekerjaan kerana badan mereka lemah. Mereka juga akan banyak kehilangan harta dalam membeli dadah. Kemisikinan yang dihadapi oleh mereka adalah berpanjangan kerana ketagihan dadah adalah sesuatu yang amat sukar untuk dilepaskan.
• Sakit Badan
• Masalah Personaliti
Pada umumnya, personaliti bermasalah yang menyebabkan kemisikinan ialah sikap malas. Sikap malas itu dicerminkan dalam tingkah laku seperti suka berkhayal, suka beromong kosong, dan juga “elak kerja”. Orang yang malas adalah kekurangan produktiviti dan mereka akan hilang banyak peluang untuk mencari rezeki.
b.         Dimensi Masyarakat
Dari dimensi ini, kemisikinan merupakan sesuatu yang terhasil daripada masalah sosio-ekonomi yang wujud dalam sesuatu masyarakat dan bukanlah sesuatu yang diakibatkan oleh kelemahan individu itu sendiri. Antara sebab musabab kemisikinan yang berhubung dengan masalah masyarakat adalah seperti berikut:

• Konflik
konflik seperti peperangan, rusuhan dan sebagainya akan menyebabkan kegiatan ekonomi terbantut dan ia juga membinasakan infrastruktur yang penting untuk menjana kekayaan. Semua ini akan menyebabkan kemisikinan berlaku.
• Ketidakadilan Sosial
Menurut teori Marxisme, dalam masyarakat yang mengamalkan ekonomi pasaran bebas, kemisikinan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan. Dalam masyarakat ini, harta cenderung untuk bertumpu kepada golongan yang terkaya, manakala orang yang misikin cenderung menjadi lebih miskin. Ini adalah kerana dalam pasaran bebas, komoditi itu dijualkan kepada mereka yang mampu menawarkan harga yang lebih tinggi. Prinsip ini menyebabkan faktor pengeluargan seperti tanah, cenderung dimiliki oleh golongan terkaya, kerana mereka mempunyai kuasa pembelian yang lebih tinggi. Pemilikikan faktor pengeluaran ini akan menyebabkan orang terkaya ini menjadi lebih kaya, dan mereka akan membeli lebih banyak faktor pengeluaran di pasaran bebas. Proses ini akan berterusan, sehingga golongan terkaya ini memonopoli segala faktor pengeluaran, dan menyebabkan orang lain dalam masyarakat miskin kerana tidak memiliki faktor pengeluaran. Tetapi teori ekonomi marxisme sudah dibukti salah oleh ramai ahli ekonomi. Semua negara yang telah cuba mengikuti cadangan Karl Marx gagal mengurangi kemiskinan. Kini hampir semua ahli ekonomi dan ahli sejarah ekonomi cadangkan ekonomi bebas untuk mengurangi kemiskinan.
Dampak lain kemiskinan suatu bangsa adalah banyaknya pengangguran
a.         Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat.
b. Gelandangan adalah orang-orang yang hidup dalam keadaan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang layak dalam masyarakat setempat, serta tidak mempunyai tempat tinggal dan pekerjaan yang tetap di wilayah tertentu dan hidup mengembara di tempat umum;
c. Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan pelbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain;

5. Alasan mengapa harus turun ke jalan
1.         Aspek ekonomi
2.         Aspek sejarah dan budaya
3.         Aspek lingkungan
4.         Aspek keluarga
5.         Aspek pendidikan
Pada dasarnya masalah pengemis, pengamen dan gelandangan sangat terkait dengan faktor kemiskinan. Selain itu ada begitu banyak faktor yang menjadikan mereka sebagai pekerja jalanan yang keras dan beresiko, seperti membantu ekonomi keluarga, menjadi korban penculikan, dipaksa bekerja orang lain, dan lain sebagainya.
6.         Cara mengurangi dan menghilangkan kemiskinan dan para pekerja jalanan
–          Kebijakan anti kemiskinan
Untuk menghilangkan atau mengurangi kemiskinan di tanah air diperlukan suatu strategi dan bentuk intervensi yang tepat, dalam arti cost effectiveness-nya tinggi.
– Ada tiga pilar utama strategi pengurangan kemiskinan, yakni :
pertumuhan ekonomi yang berkelanjutan dan yang prokemiskinan
Pemerintahan yang baik (good governance),Pembangunan sosial. Untuk mendukung strategi tersebut diperlukan intervensi-intervensi pemerintah yang sesuai dengan sasaran atau tujuan yang bila di bagi menurut waktu yaitu :
Intervensi jangka pendek, terutama pembangunan sektor pertanian dan ekonomi pedesaan, Intervensi jangka menengah dan panjang, Pembangunan sektor swasta, Kerjasama regional, APBN dan administrasi, Desentralisasi
Pendidikan dan Kesehatan, Penyediaan air bersih dan Pembangunan perkotaan. Cara mengatasi kemiskinan
• Usaha Individu
Seseorang boleh berusaha untuk menyelesaikan masalah kemiskinan yang dihadapinya oleh dirinya. Pada lazimnya seseorang itu dapat mengatasi kemisikinan dirinya menerusi pendidikan.
• Penyedekahan
Penyedekahan merupakan satu cara yang baik untuk membantu golongan termiskin dalam masyarakat. Tetapi ia tidak dapat mengatasi masalah kemisikinan secara keseluruhan.
• Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi bermaksud penambahan barangan dan perkhidmatan yang ditawarkan dalam pasaran di sesebuah negara. Pembangunan ekonomi merupakan cara yang paling berkesan untuk mengatasi masalah kemiskinan. Tetapi ia harus disertai dengan pengagihan pendapatan yang adil dalam masyarakat. Bank Dunia dan Tabung Kewangan Antarabangsa cadangkan pembangunan ekonomi sebagai faktor yang paling penting dalam mengatasi kemiskinan.
• Pembangunan Masyarakat
Pasaran bebas Milton Friedman dan lain-lain mencadangkan pasaran bebas untuk bagi pembangunan ekonomi dan mengatasi kemiskinan. Jika ada pembangunan ekonomi ada pula pengurangan kemiskinan.
Dampak kemiskinan di Indonesia memunculkan berbagai penyakit pada kelompok risiko tinggi seperti ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan lanjut usia. “Kita mengakui sejak krisis ekonomi tahun 1997 jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat”. kemiskinan yang terjadi di Indonesia menyebabkan cakupan gizi rendah, pemeliharaan kesehatan kurang, lingkungan buruk, dan biaya untuk berobat tidak ada dan biaya perawatan untuk persalinan ibu melahirkan tidak ada bantuan dari pemerintah. Akibat terkena penyakit, katanya pada lokakarya “Pengentasan Kemiskinan Melalui Pengembangan Industri Agromedicine Terpadu”, menyebabkan produktivitas rendah, penghasilan rendah dan pengeluaran bertambah.
Kemiskinan memang tidak pernah berhenti dan tidak bosan menghancurkan cita-cita masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda. Kemiskinan sudah banyak “membutakan” segala aspek seperti pendidikan. Sebagian dari penduduk Indonesia lantaran keterbatasan ekonomi yang tidak mendukung, oleh contoh kecil yang terjadi di lapangan banyak anak yang putus sekolah karena menunggak SPP, siswa SD yang nekat bunuh diri karena malu sering ditagih oleh pihak sekolah, anak di bawah umur bekerja keras dengan tujuan memberi sesuap nasi untuk keluarganya, banyak nya pengamen dan pengemis di ibu kota karna semua ini. Bagaimana Indonesia mau maju kalau generasi muda yang seharusnya sekolah sekarang ikut merasakan korban faktor kemiskinan.

Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Pengangguran
Pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita. Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output riil per orang.
Prof. Simon Kuznets mendifinisikan mendifinisikan pertumbuhan ekonomi itu adalah kenaikan pertumbuhan ekonomi itu adalah kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan semakin negara untuk menyediakan semakin banyak barang banyak barang-barang ekonomi kepada barang ekonomi kepada penduduknya. Kemampuan ini tumbuh penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, sesuai dengan kemajuan teknologi, penyesuaian kelembagaan, dan ideologi penyesuaian kelembagaan, dan ideologi yang diperlukannya yang diperlukannya.
Faktor pertumbuhan ekonomi :
-          akumulasi modal akumulasi modal
-          pertumbuhan penduduk
-          tenaga kerja
-          kemajuan teknologi
Ciri – ciri pertumbuhan ekonomi :
-          Laju Pertumbuhan Penduduk
-          Produk Per Kapita
-          Peningkatan Produktivitas
-          Laju Perubahan Struktural yang Tinggi
-          Urbanisasi
-          Ekspansi Negara Maju
-          Arus Barang, Modal, dan Orang antar bangsa
Pengangguran adalah seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal yaitu masalah pokok makro ekonomi yang paling utama.
Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau tidak bekerja secara optimal. Berdasarkan pengertian diatas, maka pengangguran dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu :
  1. Pengangguran Terselubung (Disguissed Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
  2. Setengah Menganggur (Under Unemployment) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
  3. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya dikelompokkan menjadi beberapa  jenis, yaitu  :
a. Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
b. Pengangguran struktural (Struktural Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang. Pengangguran struktuiral bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan, seperti :
-          Akibat permintaan berkurang
-          Akibat kemajuan dan pengguanaan teknologi
-          Akibat kebijakan pemerintah          
c. Pengangguran friksional  (Frictional Unemployment) adalah pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja. Pengangguran ini sering disebut pengangguran sukarela.
d. Pengangguran musiman adalah pengangguran yang muncul akibat pergantian musim misalnya pergantian musim tanam ke musim panen.
e. Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin
f. Pengangguran siklus adalah pengangguran yang diakibatkan oleh menurunnya kegiatan perekonomian (karena terjadi resesi). Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya permintaan masyarakat (aggrerat demand).
Sebab – sebab terjadinya pengangguran
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengganguran adalah sebagai berikut:
1. Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja
Ketidakseimbangan terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang tersedia. Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi. 
2. Struktur Lapangan Kerja Tidak Seimbang 
3. Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang
Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar daripada angkatan kerja, pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi kesesuaian antara tingkat pendidikan yang dibutuhkan dan yang tersedia. Ketidakseimbangan tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja yang tersedia.
4. Meningkatnya peranan dan aspirasi  Angkatan Kerja Wanita dalam seluruh struktur Angkatan Kerja Indonesia
5. Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang
Jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari suatu negara ke negara lainnya.
Dampak terjadinya pengangguran.
Untuk mengetahui dampak pengganguran terhadap per-ekonomian kita perlu mengelompokkan pengaruh pengganguran terhadap dua aspek ekonomi , yaitu:
a. Dampak Pengangguran terhadap  Perekonomian suatu Negara
Tujuan  akhir pembangunan ekonomi suatu negara pada dasarnya adalah meningkatkan kemakmuran masyarakat dan pertumbuhan ekonomi agar stabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran di suatu negara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan ekonomi yang telah dicita-citakan. Hal ini terjadi karena pengganguran berdampak negatif terhadap kegiatan perekonomian, seperti yang dijelaskan di bawah ini:
   Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan potensial (pendapatan yang seharusnya). Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.
   Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sektor pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian me-nurun  sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan menurun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.
   Pengangguran tidak menggalakkan pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran akan menye-babkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan Investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomipun tidak akan terpacu.
b. Dampak pengangguran terhadap Individu yang mengalaminya dan Masyarakat
Berikut ini merupakan dampak negatif pengangguran terhadap individu yang mengalaminya dan terhadap masyarakat pada umumnya :
Ø  Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian
Ø  Pengangguran dapat menghilangkan ketrampilan
Ø  Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial politik. 
      c. Hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran
   Sangat erat hubungannya antara pertumbuhan ekonomi dengan angka pengangguran. Pertumbuhan ekonomi adalah angka kemakmuran suatu negara dengan spesifiknya pendapatan perkapitanya. semakin rendah angka pengganguran di suatu negara maka pertumbuhan ekonomi tinggi disamping dengan faktor lain tidak konstan misalnya wiraswata, suatu negara dikatakan pertumbuhan ekonomi baik bila angka kemandirianya tinggi seperti amerika. jadi ada hubungannya


Pengaruh Pengamen Terhadap Perekonomian
Menurut penelitian Kementerian Sosial terdapat sekitar 4,5 juta anak terlantar (seperti anak jalanan, kurang nutrisi, dan anak berkebutuhan khusus) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Anak jalanan yang jumlahnya keseluruhan mencapai 232.000 anak. Sebanyak 80% diantaranya karena disuruh orang tua bekerja di jalanan, selain karena faktor kemiskinan. Menurut data yang didapat dari Dinas Sosial DKI Jakarta, tahun 2011 tercatat ada sekitar 7.315 anak jalanan di ibu kota Jakarta, dibanding tahun 2010 yang mencapai 5.650 orang atau tahun 2009 sebanyak 3.724 orang. Mereka bekerja sebagai pengelap kaca mobil, pedagang asongan, joki 3 in 1, parkir liar, penyemir sepatu, penjual koran, pencuci kendaraan, menjadi pemulung barang-barang bekas. Sebagian lagi pengemis, pengamen, dan bahkan ada yang menjadi pencuri, pencopet atau terlibat perdagangan sex.
Pemenuhan kebutuhan ekonomi, seringkali dijadikan alasan utama dari keberadaan anak di jalanan. Dengan menggunakan sebagian besar waktunya untuk beraktivitas di jalanan, anak seringkali dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan dan sangat rentan terhadap berbagai persoalan psikologis dan sosial yang sangar mempengaruhi kualitas perkembangan fisik dan psikis mereka. Sebagian besar masyarakat menganggap anak jalanan sebagai gangguan. Mereka diperlakukan sebagai suatu kelompok yang berada di luar lingkungan masyarakat itu sendiri. Anak-anak jalanan akan selalu ada, ketika pembangunan itu sendiri tidak berhasil menghentikan penggusuran terhadap kelompok marjinal perkotaan. Kemiskinan diyakini sebagai faktor utama yang menimbulkan fenomena anak  jalanan. Keluarga yang miskin cenderung menyuruh anak mereka bekerja. Selain itu, tidak sedikit anak-anak yang menjadi anak jalanan karena keluarga tidak harmonis, ditelantarkan oleh keluarganya, atau karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Dan program-program anak jalanan lebih banyak dibuat bukan untuk kepentingan anak jalanan dan tidak menempatkan sebagai dirinya sendiri. Anak-anak tidak boleh hidup di jalanan karena jalanan bukan tempat yang pantas bagi mereka. Mereka seharusnya hidup bersama orangtua dan saudara di rumah yang hangat dan bersahabat, selayaknya bermain dan belajar di sekolah atau di tempat yang pantas untuk itu. Jalanan memiliki resiko yang sangat berbahaya bagi anak dan bukanlah lingkungan yang baik untuk proses tumbuh-kembang anak dan merealisasikan potensinya secara penuh.

SUMBER:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar