Pengamen adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan
dengan cara bernyanyi atau memainkan alat musik di muka umum dengan tujuan
menarik perhatian orang lain dan mendapatkan imbalan uang atas apa yang mereka
lakukan. Kehadiran pengamen kadang kala sangat mengganggu kenyamanan apalgi
banyak dari mereka yang memaksa untuk diberi imbalan, ada juga yang menolak
jika diberi sejumlah uang yang nilainya terlalu kecil misalnya Rp.100,- dan
memunta jumlah yang lebih besar.
Di Indonesia, keberadaan anak jalanan muncul sekitar tahun 1970-an dimulai Jakarta, Bandung dan Jogja kemudian disususl dengan kota-kota lain yaitu Malang, Surabaya dan Semarang. Beragam pandangan tentang definisi maupun istilah-istilah dari Anak Jalanan
mulai muncul . menurut hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan bahwa anak jalanan secara nasional berjumlah sekitar 2,8 juta anak. Dua tahun kemudian, tahun 2000, angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5,4%, sehingga jumlahnya menjadi 3,1 juta anak. Pada tahun yang sama, anak yang tergolong rawan menjadi anak jalanan berjumlah 10,3 juta anak atau 17, 6% dari populasi anak di Indonesia, yaitu 58,7 juta anak (Soewignyo, 2002).
Di Indonesia, keberadaan anak jalanan muncul sekitar tahun 1970-an dimulai Jakarta, Bandung dan Jogja kemudian disususl dengan kota-kota lain yaitu Malang, Surabaya dan Semarang. Beragam pandangan tentang definisi maupun istilah-istilah dari Anak Jalanan
mulai muncul . menurut hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan bahwa anak jalanan secara nasional berjumlah sekitar 2,8 juta anak. Dua tahun kemudian, tahun 2000, angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5,4%, sehingga jumlahnya menjadi 3,1 juta anak. Pada tahun yang sama, anak yang tergolong rawan menjadi anak jalanan berjumlah 10,3 juta anak atau 17, 6% dari populasi anak di Indonesia, yaitu 58,7 juta anak (Soewignyo, 2002).
Faktor-faktor penyebab keberadaan pengamen dijalanan
yaitu :
1. Faktor
Internal
Faktor yang mempengaruhi keberadaan pengamen
dijalanan secara interen meliputi: adanya rasa malas, tidak mau bekerja keras,
cacat fisik dan psikis, adanya kemandirian hidup untuk tidak bergantung kepada
orang lain.
2. Faktor
Eksternal
Faktor eksternal yang dimaksudkan di sini adalah
keadaan yang mendorong seorang menjadi pengamen yang berasal dari luar diri
pengamen itu sendiri, yaitu meliputi :
a. Faktor
ekonomi
Pengamen dihadapkan kepada kemiskinan keluarga dan
sempitnya lapangan pekerjaan yang ada.
b. Faktor
pendidikan
Rendahnya tingkat pendidikan dan tidak memiliki
keterampilan kerja.
Jika dikaitkan dengan kegiatan ekonomi, maka
kegiatan ngamen juga ada yang memang menggantungkan hidupnya kepada kegiatan
ini akibat susahnya mendapatkan pekerjaan yang layak di kota-kota besar, namun
tidak dipungkiri juga ada juga pengamen yang menyatakan dirinya sebagai
pengungkapan ekspresi belaka. Meskipun demikian, namun imej di masyarakat
pengamen selama ini dianggap sebagai orang yang tidak punya pekerjaan, kualitas
rendah dan mengandalkan kenekatan belaka karena tidak ada pilihan lain. Bahkan
pengamen sering dianggap sebagai pengemis hingga orang brengsek.
Saya pernah mendengar rekaman seorang pengamen dari
Yogya yang bernama Sujud yang hanya menggunakan satu buah kendang dua sisi
sebagai musik pengiring nyanyiannya. Namun jika kita analisis kemampuannya mengolah
kata-kata atau syair-syair yang ia kumandangkan benar-benar sangat professional
sekali. Bahkan oleh Sapto Rahardjo (seorang pemusik kontemporer Indonesia)
pernah dibawa dalam sebuah ajang festival musik internasional yang diikuti oleh
pemusik Australia, Amerika, Inggris pada tahun 1997 di daerah Ancol Jakarta
Utara. Demikian juga di Bandung pernah ada seorang pengamen yang sangat
terkenal yang hanya bermodalkan kacapi Sunda diatonis, yang dikenak dengan nama
Braga Stone (terinspirasi lagu-lagu dari kelompok musik Rolling Stone, karena
tempat mangkal ngamennya di Lapangan Braga di Bandung, maka dikenal dengan
Braga Stone). Dengan alat musik tradisional kacapi Braga Stone mampu membawakan
lagu-lagu Barat dengan baik. Dua contoh pengamen ini benar-benar mengelola
dirinya sebagai pengamen, bahkan rekaman mereka ngamen juga sering dijadikan
sebagai bahan kajian di siara radio. Seperti Pak Sujud, tidak jarang dia selalu
diundang (nanggap) ke pesta-pesta perkawinan dengan bayaran tertentu. Jika
tidak ada tanggapan maka dia mengamen dari satu rumah ke rumah. Ini
memperlihatkan contoh adanya pengamen yang menggantungkan ekonomi keluarganya
dari kegiatan mengamen.
Karena bagi sebagian orang kegiatan mengamen menjadi
tiang penyangga utama hidupnya, maka banyak pengamen yang benar-benar serius
mengelolanya, sehingga kegiatan tersebut benar-benar menjadi sumber uang yang
terutama bagi ekonomi keluarganya. Namun tidak sedikit juga pengamen yang
menggunakan penghasilannya dengan poya-poya. Fenomena ini semuanya menarik
dijadikan sebagai bahan kajian dari berbagai disiplin ilmu, termasuk musik,
karena kegiatan utama pengamen pada dasarnya adalah bermain musik. Mungkin bisa
lebih difokuskan kepada seni pertunjukan, khususnya dari sisi manajemennya.
SUMBER:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar