Rabu, 14 Desember 2016

Tugas Softskill


53
JURNAL BISNIS DAN AKUNTANSI
Vol. 12, No. 1, April 2010, Hlm. 53 - 68
PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE
GOVERNANCE, INDEPENDENSI AUDITOR,
KUALITAS AUDIT DAN FAKTOR LAINNYA
TERHADAP MANAJEMEN LABA
WELVIN I GUNA dan ARLEEN HERAWATY
STIE Trisakti
arleen@stietrisakti.ac.id
Abstrak: The aim of this research is to examine the influence of good
FRUSRUDWH JRYHUQDQFH PHFKDQLVPV, DXGLWRU¶V LQGHSHQGHQF\, OHYHUDJH,
DXGLW TXDOLW\, SURILWDELOLW\ DQG FRPSDQ\¶V VL]H RQ WKH HDUQLQJV PDQDJH-
ment  practices in manufacturing companies listed in Indonesia Stock
Exchange.  This research  used  40  listed  manufacturing  companies  in
Indonesia Stock Exchange, selected using purposive sampling method,
during the research period 2006 until 2008. Data were analyzed using
multiple  regression  method.  The result of the  analysis indicated  that
leverage, audit quality and profitability had influence on earnings
management practice.  It means  that  leverage,  audit quality  by  audit
firms size and profit or loss that was reported by the management will
motivate the management in doing the earnings management practices.
Keywords:
*
RRG &RUSRUDWH *RYHUQDQFH PHFKDQLVPV_ DXGLWRU¶V
independency, leverage, audit quality, profitability,
FRPSDQ\¶V VL]H_ HDUQLQJV PDQDJHPHQW_
PENDAHULUAN
Seluruh perusahaan yang telah go public dan terdaftar dalam Bursa
Efek Indonesia wajib memenuhi kewajiban untuk menyampaikan laporan
keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) sebelum
dipublikasikan kepada publik sesuai dengan keputusan ketua BAPEPAM




54
No Kep. 17/PM/2002. Dalam menjalankan profesinya, auditor dituntut un-
tuk dapat bersikap independen dalam mendeteksi kemungkinan perilaku
menyimpang atau kecurangan yang dilakukan oleh pihak manajemen dalam
menyusun laporan keuangannya. Hal ini telah diatur melalui keputusan
Menteri Keuangan no. 423/KMK-06/2002  yang mengatur mengenai  rotasi
wajib bagi auditor dan Kantor Akuntan Publik tidak diperbolehkan memberi-
kan jasa nonaudit di samping jasa audit itu sendiri karena dapat mengganggu
independensi auditor.
Scott (2000:296) menyatakan bahwa pilihan kebijakan akuntansi
yang dilakukan manajer untuk suatu tujuan tertentu disebut dengan manaje-
men laba. Terkait dengan informasi laba, Statement of Financial Accounting
Concept (SFAC) No. 1 menyatakan bahwa informasi tersebut merupakan
perhatian utama untuk menaksir kinerja atau pertanggung-jawaban manajemen.
Selain itu informasi laba juga membantu para pengguna laporan keuangan
dalam menaksir earnings power perusahaan di masa yang akan datang. Oleh
karena itu, manajemen mempunyai kecenderungan melakukan tindakan
untuk memberikan laporan keuangan yang atraktif.
Perilaku manajer yang melakukan manajemen laba dapat dimini-
malisir dengan menerapkan mekanisme good corporate governance. Good
corporate governance adalah serangkaian mekanisme yang digunakan untuk
membatasi timbulnya masalah asimetri informasi yang dapat mendorong
terjadinya manajemen laba (Dye 1998), Trueman dan Titman (1988) yang
dikutip dari Darmawati (2003).
Mekanisme good corporate governance ditandai dengan adanya
kepemilikan institusional, kepemilikan manajemen, keberadaan komite
audit dan komisaris independen. Kepemilikan institusional dan kepemilikan
manajemen yang besar diyakini dapat membatasi perilaku manajer dalam
melakukan manajemen laba. Hal ini telah dibuktikan oleh hasil penelitian
Rajgopal et al. (1999) dan Darmawati (2003). Keberadaan komite audit dan
komisaris independen dalam suatu perusahaan juga terbukti efektif dalam
mencegah praktik manajemen laba, karena keberadaan komite audit dan
komisaris independen bertujuan untuk mengawasi jalannya kegiatan perusa-
haan dalam mencapai tujuan perusahaan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Gul et al. (2005) ada bebera-
pa indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi manajemen laba. Salah
satu indikator tersebut adalah ukuran KAP tempat auditor bekerja. Pada KAP
yang lebih besar diasumsikan audit yang dilaksanakan lebih berkualitas
dibandingkan dengan KAP yang lebih kecil karena adanya kecenderungan
untuk lebih berhati-hati dalam melaksanakan audit, termasuk menjalankan
prosedur-prosedur audit yang baku (Siregar dan Utama 2002).




55
Indikator lain yang dapat digunakan untuk mendeteksi manajemen
laba adalah independensi auditor, yang diproksikan menggunakan lamanya
penugasan audit yang digolongkan menjadi 1 tahun, 2 tahun dan 3 tahun.
Melihat pentingnya penerapan mekanisme tata kelola perusahaan yang baik
(good corporate governance) dan pentingnya peranan auditor dalam mende-
teksi manajemen laba yang dilakukan oleh manajer perusahaan, memberikan
motivasi  untuk  melaksanakan  penelitian  yang dapat  mendeteksi  pengaruh
dari tata kelola perusahaan yang baik dan peranan auditor dalam mengaudit
laporan keuangan terhadap kecenderungan dilakukannya manajemen laba.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dila-
kukan oleh Gul et al. (2005). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya terletak pada (1) objek penelitian, yaitu perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan manufaktur dipilih untuk
mencegah terjadinya bias dalam perhitungan discretionary accruals dalam
mendeteksi manajemen laba; (2) penambahan variabel independen, yaitu
mekanisme good corporate governance yang meliputi kepemilikan institu-
sional,  kepemilikan  manajemen, keberadaan komite  audit, dan komisaris
independen,  kualitas audit,  leverage, profitabilitas  dan  ukuran perusahaan;
(3)
tahun penelitian, yaitu tahun 2006 sampai dengan tahun 2008.
Penelitian ini disusun dengan urutan penulisan sebagai berikut perta-
ma, pendahuluan menjelaskan mengenai latar belakang masalah dan organi-
sasi penulisan. Kedua, menguraikan teori dan hasil penelitian sebelumnya
sebagai dasar pengembangan hipotesis. Ketiga, metoda penelitian terdiri
atas pemilihan sampel dan pengumpulan data, definisi operasional dan peng-
ukuran variabel. Keempat, hasil penelitian yang berisi hasil dan interpretasi
pengujian hipotesis. Terakhir, penutup yang berisi simpulan, keterbatasan
penelitian dan saran untuk peneltian selanjutnya.
RERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESISI
Manajemen Laba
Manajemen laba merupakan  setiap tindakan  manajemen  yang dapat
mempengaruhi  angka laba yang  dilaporkan. Setiawati (2002) menyatakan
manajemen laba sebagai campur tangan manajemen dalam proses pelaporan
keuangan eksternal dengan tujuan menguntungkan dirinya sendiri (manajer).
Dalam penelitian ini, manajemen laba diukur dengan menggunakan
proksi Discretionary Accrual (DA) yang diukur dengan menggunakan model
Jones (1991). Davidson (1987) dalam Schipper (1989) yang dikutip dari
Meutia  (2004) menyatakan manajemen laba sebagai proses dilakukannya




56
langkah-langkah yang  disengaja  dalam batasan prinsip-prinsip akuntansi
untuk memperoleh tingkat pendapatan yang diinginkan. Healy dan Wahlen
(1999) menyatakan bahwa manajemen laba terjadi ketika manajer menggu-
nakan penilaian dalam pelaporan keuangan dan dalam struktur transaksi
untuk mengubah laporan keuangan sehingga menyesatkan pemegang saham
dalam menilai prestasi ekonomi yang dicapai oleh perusahaan.
Manajemen  laba merupakan  fenomena yang sukar  dihindari  karena
fenomena ini merupakan dampak dari penggunaan dasar akrual dalam pe-
nyusunan laporan keuangan. Manajemen laba timbul sebagai dampak dari
penggunaan akuntansi sebagai salah satu alat komunikasi antara pihak-pihak
yang berkepentingan dan kelemahan inheren yang ada pada akuntansi yang
menyebabkan adanya judgement (Setiawati, 2002).
Discretionary accrual adalah komponen akrual yang memungkinkan
manajer untuk melakukan intervensi dalam proses penyusunan laporan ke-
uangan, sehingga laba yang dilaporkan dalam laporan keuangan sehingga
tidak mencerminkan nilai atau kondisi perusahaan yang sesunggguhnya. De
Angelo (1986) yang dikutip dalam Meutia (2004) menyatakan konsep model
akrual memiliki dua komponen, yaitu komponen non-discretionary dan
discretionary. Komponen discretionary accruals merupakan bagian dari
akrual yang memungkinkan manajer melakukan intervensinya dalam me-
manipulasi  laba perusahaan.  Hal  ini  disebabkan  karena manajer  memiliki
kemampuan untuk mengontrolnya dalam jangka pendek. Komponen dis-
cretionary accruals diantaranya terdiri dari penilaian piutang, pengakuan
biaya garansi (future warranty expense) dan asset modal (capitalization
assets).  Sedangkan  komponen  non-discretionary accruals ditentukan  oleh
faktor-faktor lain yang tidak dapat diawasi oleh manajer.
Good Corporate Governance
Sulistyanto dan Wibisono (2003) mengemukakan bahwa good
corporate governance atau tata kelola perusahaan yang baik dapat didefini-
sikan sebagai sistem  yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk
menciptakan nilai tambah bagi setiap stakeholders. Ada dua hal yang dite-
kankan dalam mekanisme ini, pertama, pentingnya hak pemegang  saham
atau investor untuk memperoleh informasi dengan benar (akurat) dan tepat
pada waktunya, dan kedua, kewajiban perusahaan untuk  melakukan peng-
ungkapan secara akurat, tepat waktu dan transparan terhadap semua informasi
kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.




57
Kepemilikan Institusional dan Manajemen Laba
Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perusahaan
oleh institusi keuangan seperti perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, dan
investment banking (Siregar dan Utama, 2005). Investor institusional diang-
gap sophisticated investors \DQJ WLGDN PXGDK ³GLERGRKL´ ROHK WLQGDNDQ PD-
najer (Midiastuty dan Machfoedz, 2003). Berdasarkan uraian tersebut, maka
hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H
1
Terdapat pengaruh mekanisme good corporate governance dengan proksi
kepemilikan institusional terhadap manajemen laba.
Kepemilikan Manajemen dan Manajemen Laba
Kepemilikan manajemen adalah saham yang dimiliki oleh manajemen
secara pribadi maupun saham yang dimiliki oleh anak cabang perusahaan
bersangkutan beserta afiliasinya (Susiana dan Herawaty, 2005). Investor
institusional dan manajemen memiliki insentif yang kuat untuk mendapatkan
informasi pra-pengungkapan (predisclosure information) mengenai perusaha-
an untuk memenuhi tanggung jawab fidusiarinya serta untuk meningkatkan
kinerja portofolio mereka (Darmawati, 2003). Berdasarkan uraian tersebut,
maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H
2
Terdapat pengaruh mekanisme good corporate governance dengan proksi
kepemilikan manajemen terhadap manajemen laba.
Komite Audit dan Manajemen Laba
Komite audit  menurut Kep. 29/PM/2004 merupakan komite yang
dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan penge-
lolaan perusahaan. Komite audit yang dibentuk oleh suatu perusahaan ber-
fungsi untuk memberikan pandangan mengenai masalah-masalah yang ber-
hubungan  dengan  kebijakan  keuangan,  akuntansi dan  pengendalian  intern.
Selain itu, keberadaan komite audit juga berfungsi untuk membantu dewan
komisaris dalam mengawasi pihak manajemen dalam menyusun laporan
keuangan (Mayangsari, 2004).
Tujuan dari keberadaan komite audit di perusahaan seperti yang
diungkapkan dalam Susiana dan Herawaty (2007) adalah: (1) memberikan
kepastian bahwa laporan keuangan yang dikeluarkan oleh manajemen peru-
sahaan telah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum serta disa-
jikan secara wajar dan tidak menyesatkan; (2) Memberikan kepastian bahwa
pengendalian internal perusahaan telah memadai; (3) Melakukan pengawasan
dan menindaklanjuti kemungkinan penyimpangan material dalam bidang
keuangan dan implikasi  hukumnya; (4) Memberikan rekomendasi dalam




58
pemilihan auditor eksternal yang akan melakukan audit di perusahaan. Ber-
dasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H
3
Terdapat pengaruh mekanisme good corporate governance dengan proksi
komite audit terhadap manajemen laba.
Komisaris Independen dan Manajemen Laba
Komisaris independen adalah anggota komisaris yang tidak terafiliasi
dengan manajemen, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang saham
pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis dan hubungan lainnya yang
dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau ber-
tindak semata-mata demi kepentingan perusahaan (Komite Nasional Kebi-
jakan Good Corporate Governance 2004). Keberadaan komisaris independen
dalam perusahaan berfungsi sebagai penyeimbang dalam proses pengambilan
keputusan guna memberikan perlindungan terhadap pemegang saham mi-
noritas dan pihak-pihak lain yang terkait dengan perusahaan (Mayangsari
2
0
0
3
)
.
Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai
berikut:
H
4
Terdapat pengaruh mekanisme good corporate governance dengan proksi
komisaris independen terhadap manajemen laba.
Independensi Auditor dan Manajemen Laba
Independensi  auditor akan  berdampak  terhadap  pendeteksian  mana-
jemen laba. Auditor yang independen merupakan salah satu faktor yang
dapat mengurangi terjadinya manajemen laba. Independensi  auditor dinilai
dari lamanya penugasan auditor tersebut di perusahaan yang sama. Semakin
lama auditor melaksanakan audit pada suatu perusahaan, maka auditor diang-
gap tidak independen. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang
diajukan sebagai berikut:
H
5
Terdapat pengaruh independensi auditor terhadap manajemen laba.
Leverage dan Manajemen Laba
Leverage adalah perbandingan antara total kewajiban dengan total
aktiva perusahaan. Rasio ini menunjukkan besarnya besar aktiva yang dimi-
liki perusahaan yang dibiayai dengan hutang. Semakin tinggi nilai leverage
maka risiko yang akan dihadapi investor akan semakin tinggi dan para inves-
tor akan meminta keuntungan yang semakin besar. Oleh karena itu, semakin
besar leverage maka kemungkinan manajer untuk melakukan manajemen
ODED DNDQ VHPDNLQ EHVDU _0D¶UXI ______ %HUGDVDUNDQ XUDLDQ WHUVHEXW_ PDND
hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H
6
Terdapat pengaruh leverage perusahaan terhadap manajemen laba.




59
Kualitas Audit dan Manajemen Laba
Tujuan dari audit laporan keuangan adalah untuk memberikan kepas-
tian mengenai integritas dari laporan keuangan yang disajikan oleh pihak
manajemen. Kepastian mengenai relevansi dan keandalan dari laporan keu-
angan perusahaan sangat diperlukan untuk membantu pihak eksternal dalam
mengambil suatu keputusan bisnis (Mayangsari 2003).
Kualitas audit dalam penelitian ini diukur dengan proksi ukuran KAP,
karena diasumsikan akan berpengaruh terhadap hasil audit yang dilakukan
oleh auditornya. Auditor yang bekerja di KAP Big Four dianggap lebih
berkualitas karena auditor tersebut dibekali oleh serangkaian pelatihan dan
prosedur serta memiliki program audit yang dianggap lebih akurat dan efek-
tif dibandingkan dengan auditor dari KAP non-Big Four (Isnanta, 2008).
Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H Terdapat pengaruh kualitas audit terhadap manajemen laba.
7
Profitabilitas dan Manajemen Laba
Profitabilitas  merupakan suatu  indikator  kinerja  manajemen  dalam
mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan
perusahaan (Sudarmadji dan Sularto 2007). Laba yang dihasilkan perusahaan
selama tahun berjalan dapat menjadi indikator terjadinya praktik manajemen
laba dalam suatu perusahaan. Biasanya manajemen laba dilakukan oleh
manajer untuk memanipulasi komponen laba rugi yang dilaporkan perusa-
haan. Berdasarkan uraian tersebut,  maka hipotesis yang diajukan sebagai
berikut:
H Terdapat pengaruh profitabilitas perusahaan terhadap manajemen laba.
8
Ukuran Perusahaan dan Manajemen Laba
Ukuran perusahaan dapat dinyatakan dalam total aktiva, penjualan
dan kapitalisasi pasar. Ketiga pengukuran tersebut seringkali digunakan un-
tuk mengidentifikasi ukuran suatu perusahaan karena semakin besar aktiva
yang dimiliki oleh perusahaan, maka semakin besar modal yang ditanam.
Semakin besar jumlah penjualan, maka semakin besar pula perputaran uang
di perusahaan tersebut, dan semakin besar kapitalisasi pasar maka perusaha-
an tersebut semakin dikenal oleh masyarakat (Sudarmadji dan Sularto 2007).
Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
H
9
Terdapat pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba.




60
METODA PENELITIAN
Pemilihan Sampel
Objek penelitian yang digunakan adalah perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006 sampai 2008.
Pemilihan  sampel  menggunakan  metode purposive sampling,  yang dipilih
berdasarkan kriteria  perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia minimal sejak Desember 2005-2008 dan tidak mengalami delisting
selama periode penelitian, menggunakan mata uang Rupiah dalam laporan
keuangannya, memiliki akhir tahun buku 31 Desember dalam laporan keu-
angannya, melaporkan net income dan operating income serta arus kas po-
sitif dari aktivitas operasi secara berturut-turut selama tiga tahun periode
penelitian (2006-2008). Jumlah sampel perusahaan yang memenuhi kriteria
pemilihan sampel adalah 40 perusahaan dengan 120 data penelitian. Setelah
uji outlier jumlah data yang digunakan dalam penelitian adalah sebanyak
106 data penelitian.
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham perusahaan
oleh institusi keuangan seperti perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, dan
investment banking (Siregar dan Utama 2005). Kepemilikan institusional
diukur dengan skala rasio melalui jumlah saham yang dimiliki oleh investor
institusional dibandingkan dengan total saham perusahaan.
Jumlah saham yang dimiliki investor institusi
INST =
Total modal saham perusahaan yang beredar
Kepemilikan manajemen merupakan saham yang dimiliki oleh
manajemen  secara pribadi maupun saham  yang dimiliki oleh anak cabang
perusahaan bersangkutan beserta afiliasinya (Susiana dan Herawaty 2007).
Kepemilikan  manajemen diukur  menggunakan  skala  rasio  melalui persen-
tase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dari seluruh modal saham
perusahaan yang beredar.
Jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen
KPMJ =
Total modal saham perusahaan yang beredar
Komite audit menurut  Kep.  29/PM/2004  merupakan  komite  yang
dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan penge-
lolaan perusahaan. Komite audit dalam penelitian ini diukur menggunakan  




61
skala rasio melalui presentase anggota komite audit yang berasal dari luar
komite audit terhadap seluruh anggota komite audit (Isnanta 2008).
Jumlah anggota komite audit dari luar
KMA =
Jumlah seluruh anggota komite audit
Komisaris independen diukur dengan menggunakan skala rasio
melalui presentase anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusa-
haan dari seluruh ukuran anggota dewan komisaris perusahaan (Isnanta 2008).
Jumlah anggota dewan komisaris dari luar perusahaan
KI =
Seluruh anggota dewan komisaris perusahaan
Independensi auditor melalui proksi lama penugasan audit diukur
menggunakan  skala nominal  dengan  variabel  dummy.  Angka 1  digunakan
untuk mewakili perusahaan yang menggunakan auditor yang sama dalam 3
tahun, yang berarti tidak memiliki sikap independen. Angka 0 digunakan
untuk perusahaan yang mengganti auditornya dalam waktu kurang dari 3
tahun, yang berarti memiliki sikap independen.
Leverage diukur dengan menggunakan skala rasio total hutang ter-
hadap  total aset.  Adapun rumus  yang digunakan  untuk mengukur variabel
leverage adalah:
Total Hutang
LEV =
Total Aset
Kualitas auditor sangat menentukan kredibilitas laporan keuangan.
Kualitas audit dalam penelitian ini diukur melalui proksi ukuran KAP tem-
pat auditor tersebut bekerja, yang dibedakan menjadi KAP Big Four dan
KAP non-Big Four seperti dalam penelitian (Susiana dan Herawaty 2007).
Kualitas audit diukur dengan skala nominal melalui variabel dummy. Angka
1 digunakan untuk mewakili perusahaan  yang diaudit oleh KAP Big Four
dan angka 0 digunakan untuk mewakili perusahaan yang tidak diaudit oleh
KAP non-Big Four.
Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasil-
kan laba. Profitabilitas dalam penelitian ini diukur dengan skala rasio Return
on Assets (ROA) yaitu perbandingan antara laba bersih setelah pajak terhadap
total aset, yang dirumuskan sebagai berikut:   




62
Laba Bersih setelah Pajak
ROA =
Total Aset
Ukuran perusahaan diukur  dengan  menggunakan  hasil logaritma
dari total aset. Total aset digunakan sebagai proksi ukuran perusahaan de-
ngan pertimbangan total aset perusahaan relatif lebih stabil dibandingkan
dengan jumlah penjualan dan nilai kapitalisasi pasar (Wuryatiningsih 2002
dalam Sudarmadji dan Sularto 2007).
Discretionary accruals yang digunakan sebagai proksi manajemen
laba dalam penelitian ini merupakan modifikasi cross sectional dari model
Jones, (1991), yang dapat mendeteksi manajemen laba secara konsisten
(Sanjaya, 2008). Rumus yang digunakan untuk menentukan nilai total
accruals untuk sampel perusahaan yang  terpilih dengan pendekatan cash
flow adalah sebagai berikut:
TA /A
it
it-1
= (NI ± OCF )/A
t
t
it-1
Keterangan:
TA :
it
Total Accruals pada periode t
A
it-1
:
Total aset untuk sampel perusahaan i pada akhir periode t-1
NI :
t
Laba bersih operasi (net operating income) periode t
OCF :  Aliran kas dari aktivitas operasi (operating cash flow) pada periode t.
t
Setelah diperoleh nilai total accruals, dilakukan regresi untuk mem-
peroleh angka koefisien . . dan . dengan variabel dependen total accruals
1,
2
,
3
dan variabel independen adalah total aset tahun sebelumnya (t-1), perubahan
pendapatan, dan total aset tetap kotor perusahaan pada tahun ke-t. Setelah
diperoleh nilai koefisien regresi .
1,
.
2
dan .
3
,
maka dilanjutkan dengan
meng-hitung komponen nondiscretionary accruals. Model nondiscretionary
accruals dirumuskan sebagai berikut:
NDA = . (1/ A
it
1
it-1
) +
.
2
(¨REV / A
it
it-1
)
+ . (PPE / A
3
it
it-1
) +
_
it
Keterangan:
NDA :  Nondiscretionary accruals pada periode t
it
A
it-1:
Total aset untuk sampel perusahaan i pada akhir periode t-1
¨REV :  Perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun t-1 ke tahun t
it
PPE :
it
Aset tetap (gross property plant and equipment).
_ :
it
Sampel error perusahaan i pada periode t.




63
Langkah selanjutkan adalah mencari nilai dari discretionary accruals
dengan mengurangi nilai TA dengan nilai NDA .
it
it
DAit = TA /A
it
it-1
-
NDA
it
Keterangan:
DAit:
Discretionary accruals perusahaan i pada tahun t
TA /A
it
it-1
:  Total accruals perusahaan i pada tahun t
NDA :
it
Nondiscretionary accruals perusahaan i pada tahun t.
Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah multiple
regression analysis dengan model persamaan sebagai berikut:
DA = _ + _ INST + _ KPMJ + _ KMA + _ KI + _ INDP + _ LEV +
0
1
2
3
4
5
6
_ K_AUD + _ ROA + _ UK_PRSH + _
7
8
9
Keterangan:
DA  Discretionary Accruals,  INST  Kepemilikan  Institusional,
KPMJ Kepemilikan Manajemen, KMA Komite Audit, KI Komisaris Inde-
penden, INDP Independensi Auditor, LEV Leverage, K_AUD Kualitas Audit,
ROA Return  on  Assets (profitabilitas),  UK_PRSH  Ukuran  Perusahaan,  έ
error term.
HASIL PENELITIAN
Hasil statistika deskriptif adalah sebagai berikut:
Tabel 1 Hasil Statistik Deskriptif
Variabel
n
Mean
Median
Modus
Std.
Deviation
Min.
Max.              
DA
106
-
0
.
0
0
8
-
0
.
0
1
1
-
0
.
2
8
8
0
.
0
9
5
-
0
.
2
8
8
0
.
2
9
1               
INST
106
0
.
7
5
4
0
.
7
7
7
0
.
5
0
1
0
.
1
6
3
0
.
3
3
0
0
.
9
8
0
KPMJ
106
0
.
0
0
3
0
0
0
.
0
1
0
0
0
.
0
6
0
KMA
106
0
.
6
4
6
0
.
6
6
7
0
.
6
6
7
0
.
0
5
9
0
.
5
0
0
0
.
7
5
0
KI
106
0
.
4
5
0
0
.
4
0
0
0
.
3
3
3
0
.
1
5
1
0
.
0
3
8
0
.
7
5
0
INDP
106
0
.
1
9
8
0
0
0
.
4
0
0
0
1
.
0
0
0
LEV
106
0
.
4
1
1
0
.
4
1
3
0
.
0
0
0
0
.
1
8
7
0
.
0
0
0
0
.
7
2
5
K_AUD
106
0
.
6
7
9
1
.
0
0
0
1
.
0
0
0
0
.
4
6
9
0
1
.
0
0
0
ROA
106
0
.
0
9
2
0
.
0
7
9
0
.
0
0
4
0
.
0
6
6
0
.
0
0
4
0
.
3
0
6
UK_PRSH
106
1
2
.
2
4
1
1
2
.
0
0
7
1
1
.
2
7
3
0
.
6
6
3
1
1
.
2
7
3
1
3
.
9
0
7               




64
Tabel 2 Hasil Uji Multikolinearitas  
Variabel  
Tolerance  
VIF       
INST   
0,772   
1,295        
KPMJ   
0,852   
1,173   
KMA   
0,938   
1,066   
KI   
0,907   
1,102   
INDP   
0,919   
1,088   
LEV   
0,911   
1,098   
K_AUD   
0,633   
1,580   
ROA   
0,792   
1,263   
UK_PRSH   
0,733   
1,364     
Berdasarkan hasil pengujian multikolinearitas pada tabel di atas
dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen
dalam model regresi penelitian ini.
Tabel 3 Hasil Uji Hipotesis
Variabel
B
t
Sig.      
Konstanta
-
0,487
-
1,976
0,051       
INST
0,036
0,500
0,618
KPMJ
0,121
0,227
0,821
KMA
0,156
1,279
0,203
KI
0,024
0,379
0,706
INDP
0,006
0,255
0,799
LEV
-
0,107
-
2,494
0,014
K_AUD
-
0,056
-
2,094
0,039
ROA
0,336
2,226
0,028
UK_PRSH
0,031
1,753
0,082       
Durbin-Watson 1,974, Adjusted R Square 0,08, F
9,96
2
,154 Sig. 0,031
Berdasarkan hasil uji hipotesis pada tabel 3 dapat dilihat bahwa ke-
pemilikan  institusional  tidak  berpengaruh  terhadap  manajemen  laba. Hasil
penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2004).
Kepemilikan manajemen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil




65
penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Suranta dan
Midiastuty (2005) serta Astuti (2004).
Komite audit  tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil
penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Herni dan Susanto (2008), Suranta dan Midiastuty (2005), Darmawati
(2003) serta Damayanthi (2004. Ketidakkonsistenan ini terjadi karena kebe-
radaan komite audit dalam perusahaan tidak dapat menjalankan tugasnya
dalam memonitor pelaporan keuangan sehingga keberadaan komite audit
gagal dalam mendeteksi manajemen laba.
Komisaris independen tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Suranta  dan  Midiastuty (2005) dan  tidak  konsisten dengan  penelitian
yang dilakukan oleh Herni dan Susanto (2008). Hasil penelitian ini menun-
jukkan bahwa keberadaan komisaris independen dalam perusahaan gagal
menjadi salah satu mekanisme good corporate governance dalam mendetek-
si manajemen laba.
Independensi  auditor tidak  berpengaruh  terhadap manajemen  laba.
Hasil penelitian ini tidak konsisten dengan hasil penelitian yang sebelumnya
dilakukan oleh Meutia (2004), dan Mayangsari (2004) serta Susiana dan
Herawaty (2007) yang menyatakan bahwa independensi auditor menjadi
salah  satu  faktor  dalam  mendeteksi  manajemen  laba.  Ketidak-konsistenan
ini terjadi karena terkait dengan ketidakmampuan auditor dalam mendeteksi
terjadinya manajemen laba melalui proses audit laporan keuangan perusahaan.
Leverage berpengaruh  terhadap manajemen  laba.  Hasil penelitian
konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmawati (2003) dan
Astuti (2004). Leverage atau besarnya hutang merupakan salah satu faktor
yang memotivasi terjadinya manajemen laba (Darmawati, 2003).
Kualitas audit berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil peneli-
tian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Damayanthi (2004)
serta Herni dan Susanto (2008). Profitabilitas berpengaruh terhadap mana-
jemen laba. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan
oleh Gul et al. (2005) serta Herni dan Susanto (2008). Ukuran perusahaan
tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini konsisten
dengan  penelitian  sebelumnya yang  dilakukan  oleh  Suwito  dan  Herawaty
(2005).




66
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dapat dibuat kesimpulan bahwa leverage,
kualitas audit dan profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba. Se-
dangkan Kepemilikan institusional, kepemilikan manajemen, komite audit,
komisaris independen, independensi dan ukuran perusahaan tidak berpenga-
ruh terhadap manajemen laba.
Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan yang perlu diperha-
tikan untuk penelitian berikutnya, yaitu (1) jumlah sampel perusahaan yang
dijadikan objek penelitian hanya satu jenis industri saja, yaitu manufaktur
sehingga tidak dapat mencakup semua hasil temuan untuk seluruh perusa-
haan publik; (2) Perioda penelitian untuk memprediksi manajemen laba ha-
nya tiga tahun, sehingga memungkinkan praktik manajemen laba dalam
perusahaan yang diamati kurang menggambarkan kondisi yang sebenarnya;
dan (3) Variabel independen yang digunakan dalam penelitoan ini hanya
menjelaskan 8% dari variasi variabel dependen, sisanya terdapat pada varia-
bel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.
Rekomendasi  untuk penelitian  selanjutnya  adalah (1) menambah
populasi perusahaan yang akan dijadikan sampel peneltian tidak hanya per-
usahaan manufaktur tetapi juga jenis industri lainnya yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia; (2) Menambah jumlah tahun pengamatan agar hasil pene-
litian dapat digeneralisasi; dan (3) Menambah variabel independen di luar
model penelitian ini agar dapat diketahui faktor-faktor utama yang mem-
pengaruhi manajemen laba, seperti jenis industri, market share dan fee audit.
REFERENSI:
Astuti, Dewi S. Puji. 2004. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Manajemen
Laba Diseputar Right Issue.
http://ejournal.unud.ac.id/abs t rak/dewi%20saptan t inah%20pu j i%20astuti.pdf .
Damayanthi, Eka. 2004. Perbedaan Pengaruh Besaran Perusahaan Dan Leverage Terhadap
Manajemen Laba Pada Perusahaan  Yang Memiliki Komite Audit Dan Diaudit
Oleh Auditor Berkualitas. http//:ejournal.unud.ac.id.
Darmawati, Deni. 2003. Corporate Governance dan Manajemen Laba: Suatu Studi Empiris.
Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 5 No. 1, April, 2003, hal: 47-68.
Ghozali, I. 2005. Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Peneliti Universitas
Diponegoro.
Gul, Ferdinand A., Bikki  L.  Jaggi, and Gopal V. Krishnan.  2005. Auditor Independence:
Evidence on the Joint Effect of Auditor Tenure and Nonaudit Fees.  Auditing: A
Journal of Practice and Theory, Vol. 26 No. 2, November, 2007, pp. 117-142.
Halim, J., Carmel Meiden, dan Rudolf L. Tobing. 2005. Pengaruh Manajemen Laba pada
Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan pada Perusahaan Manufaktur yang




67
Termasuk dalam Indeks LQ-45. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo, 15-16
September, 2005.  http://elmurobbie.wordpress . com /.
Healy, Paul M., and James M. Wahlen. 1998. A Review of the Earnings Management
literature and Its Implications for Standard setting. http:// papers.ssrn.com/.
Herni, dan Yulius K. Susanto. 2008. Pengaruh Struktur Kepemilikan Publik, Praktik Penge-
lolaan Perusahaan,  Jenis Industri,  Ukuran Perusahaan,  Profitabilitas  dan Risiko
Keuangan Terhadap Tindakan Perataan Laba  (Studi  Empiris Pada  Industri  Yang
Listing di Bursa Efek Jakarta). Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 23 No.
3
, 2008, hal: 302-314.
Indriantoro, N., dan B. Supomo.1999. Metodologi Penelitian Bisnis. Yogyakarta: BPFE.
Isnanta, R. 2008. Skripsi Pengaruh Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan Ter-
hadap Manajemen Laba dan Kinerja Keuangan.
http://rac.uii.ac.id/server/document/Public/2008080708584504312069.pdf .
Kusuma, H., dan Wigiya A.U. Sari. 2003. Manajemen Laba Oleh Perusahaan Pengakuisisi
Sebelum Merger dan Akuisisi di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indo-
nesia, Vol. 7 No. 1, Juni, 2003, hal: 21-36.
Mayangsari, Sekar. 2004. Analisis Pengaruh Independensi, Kualitas Audit, Serta Mekanis-
me Corporate  Governance Terhadap Integritas Laporan Keuangan. Simposium
Nasional Akuntansi VI, Surabaya, 16-17 Oktober, 2003, hal: 1255-1269.
Meutia, Inten. 2004. Pengaruh Independensi Auditor Terhadap Manajemen Laba Untuk KAP
Big 5 dan Non Big 5. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 7 No. 3, September,
2
00
4
, hal: 333-350.
0LGLDVWXW\_ 3UDQDWD 3__GDQ 0DV¶XG 0DFKIRHG]_ _____ $QDOLVLV +XEXQJDQ 0HNDQLVPH *RRG
Corporate Governance dan Indikasi Manajemen Laba. Simposium Nasional Akun-
tansi VI, Surabaya, 16-17 Oktober, 2003, hal: 176-186.
Nuswantara, D. Anita.2004. The Effect Of Market Share and Leverage Interaction Toward
Earnings Management  Practices. Simposium  Nasional  Akuntansi  VII, Denpasar-
Bali, 2-3 Desember, 2004, hal: 172-186.
Novianty, R., dan Indra W. Kusuma. 2001. Analisis Faktor-Faktor Yyang Mempengaruhi
Independensi  Penampilan Akuntan Publik.  Jurnal  Akuntansi  dan  Auditing Indo-
nesia, Vol. 5 No. 1, Juni, 2001, hal: 1-15.
Rajgopal, S., Mohan Venkatachalam, and James J Jiambalvo. 1999. Is Institutional Owner-
ship Associated With Earnings Management And The Extent To Which  Stock
Prices Reflect Future Earnings?  http://papers . ssrn.com /.
Sanjaya, I Putu Sugiartha. 2008. Auditor Eksternal, Komite Audit, dan Manajemen Laba.
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 11 No. 1, Januari, 2008, hal: 97-116.
Scott, William R. (2000). Financial Accounting Theory. Second edition. Canada: Prentice
Hall.
Siregar, S. V., dan S. Utama. 2006. Pengaruh Struktur Kepemilikan, ukuran Perusahaan,
dan Praktek Corporate Governance terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Manage-
ment). Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 9 No. 3, September, 2006, hal: 307-
326.
Sukartha, I Made. 2006. Pengaruh Manajemen Laba dan Kepemilikan Manajerial pada
Kesejahteraan Pemegang Saham Perusahaan Target Akuisisi.
http://ejournal.unud.ac.id/abs t rak/ok_sukartha.pdf .
Sulistyanto,  H. Sri,  dan  Haris  Wibisono.2003.  Good Corporate  Governance: Berhasilkah
Diterapkan di Indonesia.  http://researcheng i nes.com/hsulis t yanto3.h t m l.




68
Suranta, Eddy, dan Pratama P. Midiastuty.2005. Pengaruh Good Corporate Governance
Terhadap Praktek Manajemen Laba. Konferensi Nasional Akuntansi.
Susiana, dan A.  Herawaty.  2007.  Analisis Pengaruh Independensi,  Mekanisme Corporate
Governance, dan Kualitas Audit  Terhadap Integritas  Laporan Keuangan.  Simpo-
sium Nasional Akuntansi X, Makassar, 26-28 Juli, 2007.
https://info.perbanasinstitute.ac.id/pdf/AUEP / AUEP09.pdf .
Suwito, E., dan A. Herawaty. 2005. Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap
Tindakan Perataan Laba Yang Dilakukan Oleh Perusahaan Yang Terdaftar di
Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo, 15-16 September,
2
00
5
.
http://muhariefeffendi.f i les.wordpress.com/2007/11/kakpm-06.pdf.
Ujiyantho,  Muh.  Arief. 2006. Asimetri  Informasi  Dan Manajemen Laba:  Suatu Tinjauan
Dalam Hubungan Keagenan.

http://www . freewebs.com/stiemuhpekl/asimetr i %20informasi.doc .


sumber: http://www.tsm.ac.id/JBA/5_artikel_JBA12.1April2010.asp

Tidak ada komentar:

Posting Komentar