53
|
JURNAL BISNIS DAN AKUNTANSI
|
Vol. 12, No. 1, April 2010, Hlm. 53 -
68
|
PENGARUH MEKANISME GOOD
CORPORATE
|
GOVERNANCE,
INDEPENDENSI AUDITOR,
|
KUALITAS AUDIT DAN FAKTOR LAINNYA
|
TERHADAP MANAJEMEN LABA
|
WELVIN I GUNA dan ARLEEN
HERAWATY
|
STIE Trisakti
|
arleen@stietrisakti.ac.id
|
Abstrak: The aim of this research is to examine the influence of good
|
FRUSRUDWH JRYHUQDQFH PHFKDQLVPV, DXGLWRU¶V LQGHSHQGHQF\,
OHYHUDJH,
|
DXGLW TXDOLW\, SURILWDELOLW\ DQG FRPSDQ\¶V VL]H RQ WKH HDUQLQJV
PDQDJH-
|
ment practices in
manufacturing companies listed in Indonesia Stock
|
Exchange. This
research used 40
listed manufacturing companies
in
|
Indonesia Stock Exchange, selected using purposive sampling
method,
|
during the research period 2006 until 2008. Data were analyzed
using
|
multiple regression method.
The result of the analysis
indicated that
|
leverage, audit quality and profitability had influence on
earnings
|
management practice. It
means that leverage,
audit quality by audit
|
firms size and profit or loss that was reported by the
management will
|
motivate the management in doing the earnings management
practices.
|
Keywords:
|
*
|
RRG &RUSRUDWH *RYHUQDQFH PHFKDQLVPV_ DXGLWRU¶V
|
independency, leverage, audit quality, profitability,
|
FRPSDQ\¶V VL]H_ HDUQLQJV PDQDJHPHQW_
|
PENDAHULUAN
|
Seluruh perusahaan yang telah go
public dan terdaftar dalam Bursa
|
Efek Indonesia wajib memenuhi
kewajiban untuk menyampaikan laporan
|
keuangan yang telah diaudit oleh
Kantor Akuntan Publik (KAP) sebelum
|
dipublikasikan kepada publik sesuai
dengan keputusan ketua BAPEPAM
|
54
|
No Kep. 17/PM/2002. Dalam menjalankan
profesinya, auditor dituntut un-
|
tuk dapat bersikap independen dalam
mendeteksi kemungkinan perilaku
|
menyimpang atau kecurangan yang
dilakukan oleh pihak manajemen dalam
|
menyusun laporan keuangannya. Hal ini
telah diatur melalui keputusan
|
Menteri Keuangan no.
423/KMK-06/2002 yang mengatur
mengenai rotasi
|
wajib bagi auditor dan Kantor Akuntan
Publik tidak diperbolehkan memberi-
|
kan jasa nonaudit di samping jasa
audit itu sendiri karena dapat mengganggu
|
independensi auditor.
|
Scott (2000:296) menyatakan bahwa
pilihan kebijakan akuntansi
|
yang dilakukan manajer untuk suatu
tujuan tertentu disebut dengan manaje-
|
men laba. Terkait dengan informasi
laba, Statement of Financial Accounting
|
Concept (SFAC)
No. 1 menyatakan bahwa informasi tersebut merupakan
|
perhatian utama untuk menaksir kinerja
atau pertanggung-jawaban manajemen.
|
Selain itu informasi laba juga
membantu para pengguna laporan keuangan
|
dalam menaksir earnings power perusahaan
di masa yang akan datang. Oleh
|
karena itu, manajemen mempunyai
kecenderungan melakukan tindakan
|
untuk memberikan laporan keuangan yang
atraktif.
|
Perilaku manajer yang melakukan
manajemen laba dapat dimini-
|
malisir dengan menerapkan mekanisme good
corporate governance. Good
|
corporate governance adalah
serangkaian mekanisme yang digunakan untuk
|
membatasi timbulnya masalah asimetri
informasi yang dapat mendorong
|
terjadinya manajemen laba (Dye 1998),
Trueman dan Titman (1988) yang
|
dikutip dari Darmawati (2003).
|
Mekanisme good corporate governance
ditandai dengan adanya
|
kepemilikan institusional, kepemilikan
manajemen, keberadaan komite
|
audit dan komisaris independen.
Kepemilikan institusional dan kepemilikan
|
manajemen yang besar diyakini dapat
membatasi perilaku manajer dalam
|
melakukan manajemen laba. Hal ini
telah dibuktikan oleh hasil penelitian
|
Rajgopal et al. (1999) dan
Darmawati (2003). Keberadaan komite audit dan
|
komisaris independen dalam suatu
perusahaan juga terbukti efektif dalam
|
mencegah praktik manajemen laba,
karena keberadaan komite audit dan
|
komisaris independen bertujuan untuk
mengawasi jalannya kegiatan perusa-
|
haan dalam mencapai tujuan perusahaan.
|
Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Gul et al. (2005) ada bebera-
|
pa indikator yang dapat digunakan
untuk mendeteksi manajemen laba. Salah
|
satu indikator tersebut adalah ukuran
KAP tempat auditor bekerja. Pada KAP
|
yang lebih besar diasumsikan audit
yang dilaksanakan lebih berkualitas
|
dibandingkan dengan KAP yang lebih
kecil karena adanya kecenderungan
|
untuk lebih berhati-hati dalam
melaksanakan audit, termasuk menjalankan
|
prosedur-prosedur audit yang baku
(Siregar dan Utama 2002).
|
55
|
Indikator lain yang dapat digunakan
untuk mendeteksi manajemen
|
laba adalah independensi auditor, yang
diproksikan menggunakan lamanya
|
penugasan audit yang digolongkan
menjadi 1 tahun, 2 tahun dan 3 tahun.
|
Melihat pentingnya penerapan mekanisme
tata kelola perusahaan yang baik
|
(good corporate governance) dan
pentingnya peranan auditor dalam mende-
|
teksi manajemen laba yang dilakukan
oleh manajer perusahaan, memberikan
|
motivasi untuk
melaksanakan penelitian yang dapat
mendeteksi pengaruh
|
dari tata kelola perusahaan yang baik
dan peranan auditor dalam mengaudit
|
laporan keuangan terhadap kecenderungan
dilakukannya manajemen laba.
|
Penelitian ini merupakan pengembangan
dari penelitian yang dila-
|
kukan oleh Gul et al. (2005).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
|
sebelumnya terletak pada (1) objek
penelitian, yaitu perusahaan manufaktur
|
yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Perusahaan manufaktur dipilih untuk
|
mencegah terjadinya bias dalam
perhitungan discretionary accruals dalam
|
mendeteksi manajemen laba; (2)
penambahan variabel independen, yaitu
|
mekanisme good corporate governance
yang meliputi kepemilikan institu-
|
sional, kepemilikan
manajemen, keberadaan komite
audit, dan komisaris
|
independen, kualitas audit, leverage, profitabilitas dan
ukuran perusahaan;
|
(3)
|
tahun penelitian, yaitu tahun 2006
sampai dengan tahun 2008.
|
Penelitian ini disusun dengan urutan
penulisan sebagai berikut perta-
|
ma, pendahuluan menjelaskan mengenai
latar belakang masalah dan organi-
|
sasi penulisan. Kedua, menguraikan
teori dan hasil penelitian sebelumnya
|
sebagai dasar pengembangan hipotesis.
Ketiga, metoda penelitian terdiri
|
atas pemilihan sampel dan pengumpulan
data, definisi operasional dan peng-
|
ukuran variabel. Keempat, hasil
penelitian yang berisi hasil dan interpretasi
|
pengujian hipotesis. Terakhir, penutup
yang berisi simpulan, keterbatasan
|
penelitian dan saran untuk peneltian
selanjutnya.
|
RERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN
HIPOTESISI
|
Manajemen Laba
|
Manajemen laba merupakan setiap tindakan manajemen
yang dapat
|
mempengaruhi angka laba yang dilaporkan. Setiawati (2002) menyatakan
|
manajemen laba sebagai campur tangan
manajemen dalam proses pelaporan
|
keuangan eksternal dengan tujuan
menguntungkan dirinya sendiri (manajer).
|
Dalam penelitian ini, manajemen laba
diukur dengan menggunakan
|
proksi Discretionary Accrual (DA)
yang diukur dengan menggunakan model
|
Jones (1991). Davidson (1987) dalam
Schipper (1989) yang dikutip dari
|
Meutia
(2004) menyatakan manajemen laba sebagai proses dilakukannya
|
56
|
langkah-langkah yang disengaja
dalam batasan prinsip-prinsip akuntansi
|
untuk memperoleh tingkat pendapatan
yang diinginkan. Healy dan Wahlen
|
(1999) menyatakan bahwa manajemen laba
terjadi ketika manajer menggu-
|
nakan penilaian dalam pelaporan
keuangan dan dalam struktur transaksi
|
untuk mengubah laporan keuangan
sehingga menyesatkan pemegang saham
|
dalam menilai prestasi ekonomi yang
dicapai oleh perusahaan.
|
Manajemen laba merupakan fenomena yang sukar dihindari
karena
|
fenomena ini merupakan dampak dari
penggunaan dasar akrual dalam pe-
|
nyusunan laporan keuangan. Manajemen
laba timbul sebagai dampak dari
|
penggunaan akuntansi sebagai salah
satu alat komunikasi antara pihak-pihak
|
yang berkepentingan dan kelemahan
inheren yang ada pada akuntansi yang
|
menyebabkan adanya judgement (Setiawati,
2002).
|
Discretionary accrual adalah
komponen akrual yang memungkinkan
|
manajer untuk melakukan intervensi
dalam proses penyusunan laporan ke-
|
uangan, sehingga laba yang dilaporkan
dalam laporan keuangan sehingga
|
tidak mencerminkan nilai atau kondisi
perusahaan yang sesunggguhnya. De
|
Angelo (1986) yang dikutip dalam
Meutia (2004) menyatakan konsep model
|
akrual memiliki dua komponen, yaitu
komponen non-discretionary dan
|
discretionary.
Komponen discretionary accruals merupakan bagian dari
|
akrual yang memungkinkan manajer
melakukan intervensinya dalam me-
|
manipulasi laba perusahaan. Hal
ini disebabkan karena manajer memiliki
|
kemampuan untuk mengontrolnya dalam
jangka pendek. Komponen dis-
|
cretionary accruals diantaranya
terdiri dari penilaian piutang, pengakuan
|
biaya garansi (future warranty
expense) dan asset modal (capitalization
|
assets). Sedangkan
komponen non-discretionary
accruals ditentukan oleh
|
faktor-faktor lain yang tidak dapat
diawasi oleh manajer.
|
Good Corporate Governance
|
Sulistyanto dan Wibisono (2003)
mengemukakan bahwa good
|
corporate governance atau
tata kelola perusahaan yang baik dapat didefini-
|
sikan sebagai sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan
untuk
|
menciptakan nilai tambah bagi setiap stakeholders.
Ada dua hal yang dite-
|
kankan dalam mekanisme ini, pertama,
pentingnya hak pemegang saham
|
atau investor untuk memperoleh
informasi dengan benar (akurat) dan tepat
|
pada waktunya, dan kedua, kewajiban
perusahaan untuk melakukan peng-
|
ungkapan secara akurat, tepat waktu
dan transparan terhadap semua informasi
|
kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.
|
57
|
Kepemilikan Institusional dan
Manajemen Laba
|
Kepemilikan institusional merupakan
kepemilikan saham perusahaan
|
oleh institusi keuangan seperti
perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, dan
|
investment banking (Siregar
dan Utama, 2005). Investor institusional diang-
|
gap sophisticated investors \DQJ
WLGDN PXGDK ³GLERGRKL´ ROHK WLQGDNDQ PD-
|
najer (Midiastuty dan Machfoedz,
2003). Berdasarkan uraian tersebut, maka
|
hipotesis yang diajukan sebagai
berikut:
|
H
|
1
|
Terdapat pengaruh mekanisme good
corporate governance dengan proksi
|
kepemilikan institusional terhadap
manajemen laba.
|
Kepemilikan Manajemen dan Manajemen
Laba
|
Kepemilikan manajemen adalah saham
yang dimiliki oleh manajemen
|
secara pribadi maupun saham yang
dimiliki oleh anak cabang perusahaan
|
bersangkutan beserta afiliasinya
(Susiana dan Herawaty, 2005). Investor
|
institusional dan manajemen memiliki
insentif yang kuat untuk mendapatkan
|
informasi pra-pengungkapan (predisclosure
information) mengenai perusaha-
|
an untuk memenuhi tanggung jawab
fidusiarinya serta untuk meningkatkan
|
kinerja portofolio mereka (Darmawati,
2003). Berdasarkan uraian tersebut,
|
maka hipotesis yang diajukan sebagai
berikut:
|
H
|
2
|
Terdapat pengaruh mekanisme good
corporate governance dengan proksi
|
kepemilikan manajemen terhadap
manajemen laba.
|
Komite Audit dan Manajemen
Laba
|
Komite audit menurut Kep. 29/PM/2004 merupakan komite
yang
|
dibentuk oleh dewan komisaris untuk
melakukan tugas pengawasan penge-
|
lolaan perusahaan. Komite audit yang
dibentuk oleh suatu perusahaan ber-
|
fungsi untuk memberikan pandangan
mengenai masalah-masalah yang ber-
|
hubungan dengan
kebijakan keuangan, akuntansi dan pengendalian intern.
|
Selain itu, keberadaan komite audit
juga berfungsi untuk membantu dewan
|
komisaris dalam mengawasi pihak
manajemen dalam menyusun laporan
|
keuangan (Mayangsari, 2004).
|
Tujuan dari keberadaan komite audit di
perusahaan seperti yang
|
diungkapkan dalam Susiana dan Herawaty
(2007) adalah: (1) memberikan
|
kepastian bahwa laporan keuangan yang
dikeluarkan oleh manajemen peru-
|
sahaan telah sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum serta disa-
|
jikan secara wajar dan tidak
menyesatkan; (2) Memberikan kepastian bahwa
|
pengendalian internal perusahaan telah
memadai; (3) Melakukan pengawasan
|
dan menindaklanjuti kemungkinan penyimpangan
material dalam bidang
|
keuangan dan implikasi hukumnya; (4) Memberikan rekomendasi dalam
|
58
|
pemilihan auditor eksternal yang akan
melakukan audit di perusahaan. Ber-
|
dasarkan uraian tersebut, maka
hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
|
H
|
3
|
Terdapat pengaruh mekanisme good
corporate governance dengan proksi
|
komite audit terhadap manajemen laba.
|
Komisaris Independen dan Manajemen
Laba
|
Komisaris independen adalah anggota
komisaris yang tidak terafiliasi
|
dengan manajemen, anggota dewan
komisaris lainnya dan pemegang saham
|
pengendali, serta bebas dari hubungan
bisnis dan hubungan lainnya yang
|
dapat mempengaruhi kemampuannya untuk
bertindak independen atau ber-
|
tindak semata-mata demi kepentingan
perusahaan (Komite Nasional Kebi-
|
jakan Good Corporate Governance 2004).
Keberadaan komisaris independen
|
dalam perusahaan berfungsi sebagai
penyeimbang dalam proses pengambilan
|
keputusan guna memberikan perlindungan
terhadap pemegang saham mi-
|
noritas dan pihak-pihak lain yang
terkait dengan perusahaan (Mayangsari
|
2
|
0
|
0
|
3
|
)
|
.
|
Berdasarkan uraian tersebut, maka
hipotesis yang diajukan sebagai
|
berikut:
|
H
|
4
|
Terdapat pengaruh mekanisme good
corporate governance dengan proksi
|
komisaris independen terhadap
manajemen laba.
|
Independensi Auditor dan Manajemen
Laba
|
Independensi auditor akan berdampak
terhadap pendeteksian mana-
|
jemen laba. Auditor yang independen
merupakan salah satu faktor yang
|
dapat mengurangi terjadinya manajemen
laba. Independensi auditor dinilai
|
dari lamanya penugasan auditor
tersebut di perusahaan yang sama. Semakin
|
lama auditor melaksanakan audit pada
suatu perusahaan, maka auditor diang-
|
gap tidak independen. Berdasarkan
uraian tersebut, maka hipotesis yang
|
diajukan sebagai berikut:
|
H
|
5
|
Terdapat pengaruh independensi auditor
terhadap manajemen laba.
|
Leverage dan
Manajemen Laba
|
Leverage adalah
perbandingan antara total kewajiban dengan total
|
aktiva perusahaan. Rasio ini
menunjukkan besarnya besar aktiva yang dimi-
|
liki perusahaan yang dibiayai dengan
hutang. Semakin tinggi nilai leverage
|
maka risiko yang akan dihadapi
investor akan semakin tinggi dan para inves-
|
tor akan meminta keuntungan yang
semakin besar. Oleh karena itu, semakin
|
besar leverage maka kemungkinan
manajer untuk melakukan manajemen
|
ODED DNDQ VHPDNLQ EHVDU _0D¶UXI ______
%HUGDVDUNDQ XUDLDQ WHUVHEXW_ PDND
|
hipotesis yang diajukan sebagai
berikut:
|
H
|
6
|
Terdapat pengaruh leverage perusahaan
terhadap manajemen laba.
|
59
|
Kualitas Audit dan Manajemen Laba
|
Tujuan dari audit laporan keuangan
adalah untuk memberikan kepas-
|
tian mengenai integritas dari laporan
keuangan yang disajikan oleh pihak
|
manajemen. Kepastian mengenai
relevansi dan keandalan dari laporan keu-
|
angan perusahaan sangat diperlukan
untuk membantu pihak eksternal dalam
|
mengambil suatu keputusan bisnis
(Mayangsari 2003).
|
Kualitas audit dalam penelitian ini
diukur dengan proksi ukuran KAP,
|
karena diasumsikan akan berpengaruh
terhadap hasil audit yang dilakukan
|
oleh auditornya. Auditor yang bekerja
di KAP Big Four dianggap lebih
|
berkualitas karena auditor tersebut
dibekali oleh serangkaian pelatihan dan
|
prosedur serta memiliki program audit
yang dianggap lebih akurat dan efek-
|
tif dibandingkan dengan auditor dari
KAP non-Big Four (Isnanta, 2008).
|
Berdasarkan uraian tersebut, maka
hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
|
H Terdapat pengaruh kualitas audit
terhadap manajemen laba.
|
7
|
Profitabilitas dan
Manajemen Laba
|
Profitabilitas merupakan suatu indikator
kinerja manajemen dalam
|
mengelola kekayaan perusahaan yang
ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan
|
perusahaan (Sudarmadji dan Sularto
2007). Laba yang dihasilkan perusahaan
|
selama tahun berjalan dapat menjadi
indikator terjadinya praktik manajemen
|
laba dalam suatu perusahaan. Biasanya
manajemen laba dilakukan oleh
|
manajer untuk memanipulasi komponen
laba rugi yang dilaporkan perusa-
|
haan. Berdasarkan uraian
tersebut, maka hipotesis yang diajukan
sebagai
|
berikut:
|
H Terdapat pengaruh profitabilitas
perusahaan terhadap manajemen laba.
|
8
|
Ukuran Perusahaan dan Manajemen Laba
|
Ukuran perusahaan dapat dinyatakan
dalam total aktiva, penjualan
|
dan kapitalisasi pasar. Ketiga
pengukuran tersebut seringkali digunakan un-
|
tuk mengidentifikasi ukuran suatu
perusahaan karena semakin besar aktiva
|
yang dimiliki oleh perusahaan, maka
semakin besar modal yang ditanam.
|
Semakin besar jumlah penjualan, maka
semakin besar pula perputaran uang
|
di perusahaan tersebut, dan semakin
besar kapitalisasi pasar maka perusaha-
|
an tersebut semakin dikenal oleh
masyarakat (Sudarmadji dan Sularto 2007).
|
Berdasarkan uraian tersebut, maka
hipotesis yang diajukan sebagai berikut:
|
H
|
9
|
Terdapat pengaruh ukuran perusahaan
terhadap manajemen laba.
|
60
|
METODA PENELITIAN
|
Pemilihan Sampel
|
Objek penelitian yang digunakan adalah
perusahaan manufaktur
|
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
selama periode 2006 sampai 2008.
|
Pemilihan sampel
menggunakan metode purposive
sampling, yang dipilih
|
berdasarkan kriteria perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek
|
Indonesia minimal sejak Desember
2005-2008 dan tidak mengalami delisting
|
selama periode penelitian, menggunakan
mata uang Rupiah dalam laporan
|
keuangannya, memiliki akhir tahun buku
31 Desember dalam laporan keu-
|
angannya, melaporkan net income dan
operating income serta arus kas po-
|
sitif dari aktivitas operasi secara
berturut-turut selama tiga tahun periode
|
penelitian (2006-2008). Jumlah sampel
perusahaan yang memenuhi kriteria
|
pemilihan sampel adalah 40 perusahaan
dengan 120 data penelitian. Setelah
|
uji outlier jumlah data yang
digunakan dalam penelitian adalah sebanyak
|
106 data penelitian.
|
Definisi Operasional dan
Pengukuran Variabel
|
Kepemilikan institusional merupakan
kepemilikan saham perusahaan
|
oleh institusi keuangan seperti
perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, dan
|
investment banking (Siregar
dan Utama 2005). Kepemilikan institusional
|
diukur dengan skala rasio melalui
jumlah saham yang dimiliki oleh investor
|
institusional dibandingkan dengan
total saham perusahaan.
|
Jumlah saham yang dimiliki investor
institusi
|
INST =
|
Total modal saham perusahaan yang
beredar
|
Kepemilikan manajemen merupakan
saham yang dimiliki oleh
|
manajemen secara pribadi maupun saham yang dimiliki oleh anak cabang
|
perusahaan bersangkutan beserta
afiliasinya (Susiana dan Herawaty 2007).
|
Kepemilikan manajemen diukur menggunakan
skala rasio melalui persen-
|
tase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen
dari seluruh modal saham
|
perusahaan yang beredar.
|
Jumlah saham yang dimiliki pihak
manajemen
|
KPMJ =
|
Total modal saham perusahaan yang
beredar
|
Komite audit menurut Kep.
29/PM/2004 merupakan komite
yang
|
dibentuk oleh dewan komisaris untuk
melakukan tugas pengawasan penge-
|
lolaan perusahaan. Komite audit dalam
penelitian ini diukur menggunakan
|
61
|
skala rasio melalui presentase anggota
komite audit yang berasal dari luar
|
komite audit terhadap seluruh anggota
komite audit (Isnanta 2008).
|
Jumlah anggota komite audit dari luar
|
KMA =
|
Jumlah seluruh anggota komite audit
|
Komisaris independen diukur
dengan menggunakan skala rasio
|
melalui presentase anggota dewan
komisaris yang berasal dari luar perusa-
|
haan dari seluruh ukuran anggota dewan
komisaris perusahaan (Isnanta 2008).
|
Jumlah anggota dewan komisaris dari
luar perusahaan
|
KI =
|
Seluruh anggota dewan komisaris
perusahaan
|
Independensi auditor melalui
proksi lama penugasan audit diukur
|
menggunakan skala nominal dengan
variabel dummy. Angka 1
digunakan
|
untuk mewakili perusahaan yang
menggunakan auditor yang sama dalam 3
|
tahun, yang berarti tidak memiliki
sikap independen. Angka 0 digunakan
|
untuk perusahaan yang mengganti
auditornya dalam waktu kurang dari 3
|
tahun, yang berarti memiliki sikap
independen.
|
Leverage diukur
dengan menggunakan skala rasio total hutang ter-
|
hadap
total aset. Adapun rumus yang digunakan untuk mengukur variabel
|
leverage adalah:
|
Total Hutang
|
LEV =
|
Total Aset
|
Kualitas auditor sangat
menentukan kredibilitas laporan keuangan.
|
Kualitas audit dalam penelitian ini
diukur melalui proksi ukuran KAP tem-
|
pat auditor tersebut bekerja, yang
dibedakan menjadi KAP Big Four dan
|
KAP non-Big Four seperti dalam
penelitian (Susiana dan Herawaty 2007).
|
Kualitas audit diukur dengan skala
nominal melalui variabel dummy. Angka
|
1 digunakan untuk mewakili
perusahaan yang diaudit oleh KAP Big
Four
|
dan angka 0 digunakan untuk mewakili
perusahaan yang tidak diaudit oleh
|
KAP non-Big Four.
|
Profitabilitas merupakan
kemampuan perusahaan dalam menghasil-
|
kan laba. Profitabilitas dalam
penelitian ini diukur dengan skala rasio Return
|
on Assets (ROA)
yaitu perbandingan antara laba bersih setelah pajak terhadap
|
total aset, yang dirumuskan sebagai
berikut:
|
62
|
Laba Bersih setelah Pajak
|
ROA =
|
Total Aset
|
Ukuran perusahaan diukur dengan
menggunakan hasil logaritma
|
dari total aset. Total aset digunakan
sebagai proksi ukuran perusahaan de-
|
ngan pertimbangan total aset
perusahaan relatif lebih stabil dibandingkan
|
dengan jumlah penjualan dan nilai
kapitalisasi pasar (Wuryatiningsih 2002
|
dalam Sudarmadji dan Sularto 2007).
|
Discretionary accruals yang
digunakan sebagai proksi manajemen
|
laba dalam
penelitian ini merupakan modifikasi cross sectional dari model
|
Jones, (1991), yang dapat mendeteksi
manajemen laba secara konsisten
|
(Sanjaya, 2008). Rumus yang digunakan
untuk menentukan nilai total
|
accruals untuk
sampel perusahaan yang terpilih dengan
pendekatan cash
|
flow adalah
sebagai berikut:
|
TA /A
|
it
|
it-1
|
= (NI ± OCF )/A
|
t
|
t
|
it-1
|
Keterangan:
|
TA :
|
it
|
Total Accruals pada
periode t
|
A
|
it-1
|
:
|
Total aset untuk sampel perusahaan i
pada akhir periode t-1
|
NI :
|
t
|
Laba bersih operasi (net operating
income) periode t
|
OCF :
Aliran kas dari aktivitas operasi (operating cash flow) pada
periode t.
|
t
|
Setelah diperoleh nilai total
accruals, dilakukan regresi untuk mem-
|
peroleh angka koefisien . . dan .
dengan variabel dependen total accruals
|
1,
|
2
|
,
|
3
|
dan variabel independen adalah total
aset tahun sebelumnya (t-1), perubahan
|
pendapatan, dan total aset tetap kotor
perusahaan pada tahun ke-t. Setelah
|
diperoleh nilai koefisien regresi .
|
1,
|
.
|
2
|
dan .
|
3
|
,
|
maka dilanjutkan dengan
|
meng-hitung komponen nondiscretionary
accruals. Model nondiscretionary
|
accruals dirumuskan
sebagai berikut:
|
NDA = . (1/ A
|
it
|
1
|
it-1
|
) +
|
.
|
2
|
(¨REV / A
|
it
|
it-1
|
)
|
+ . (PPE / A
|
3
|
it
|
it-1
|
) +
|
_
|
it
|
Keterangan:
|
NDA :
Nondiscretionary accruals pada periode t
|
it
|
A
|
it-1:
|
Total aset untuk sampel perusahaan i
pada akhir periode t-1
|
¨REV :
Perubahan pendapatan perusahaan i dari tahun t-1 ke tahun t
|
it
|
PPE :
|
it
|
Aset tetap (gross property plant
and equipment).
|
_ :
|
it
|
Sampel error perusahaan i pada
periode t.
|
63
|
Langkah selanjutkan adalah mencari
nilai dari discretionary accruals
|
dengan mengurangi nilai TA dengan
nilai NDA .
|
it
|
it
|
DAit = TA /A
|
it
|
it-1
|
-
|
NDA
|
it
|
Keterangan:
|
DAit:
|
Discretionary accruals perusahaan
i pada tahun t
|
TA /A
|
it
|
it-1
|
:
Total accruals perusahaan i pada tahun t
|
NDA :
|
it
|
Nondiscretionary accruals perusahaan
i pada tahun t.
|
Alat analisis yang digunakan untuk
menguji hipotesis adalah multiple
|
regression analysis dengan
model persamaan sebagai berikut:
|
DA = _ + _ INST + _ KPMJ + _ KMA + _
KI + _ INDP + _ LEV +
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
_ K_AUD + _ ROA + _ UK_PRSH + _
|
7
|
8
|
9
|
Keterangan:
|
DA
Discretionary Accruals,
INST Kepemilikan Institusional,
|
KPMJ Kepemilikan Manajemen, KMA Komite
Audit, KI Komisaris Inde-
|
penden, INDP Independensi Auditor, LEV
Leverage, K_AUD Kualitas Audit,
|
ROA Return on
Assets (profitabilitas),
UK_PRSH Ukuran Perusahaan,
Î
|
error term.
|
HASIL PENELITIAN
|
Hasil statistika deskriptif adalah
sebagai berikut:
|
Tabel 1 Hasil Statistik
Deskriptif
|
Variabel
|
n
|
Mean
|
Median
|
Modus
|
Std.
|
Deviation
|
Min.
|
Max.
|
DA
|
106
|
-
|
0
|
.
|
0
|
0
|
8
|
-
|
0
|
.
|
0
|
1
|
1
|
-
|
0
|
.
|
2
|
8
|
8
|
0
|
.
|
0
|
9
|
5
|
-
|
0
|
.
|
2
|
8
|
8
|
0
|
.
|
2
|
9
|
1
|
INST
|
106
|
0
|
.
|
7
|
5
|
4
|
0
|
.
|
7
|
7
|
7
|
0
|
.
|
5
|
0
|
1
|
0
|
.
|
1
|
6
|
3
|
0
|
.
|
3
|
3
|
0
|
0
|
.
|
9
|
8
|
0
|
KPMJ
|
106
|
0
|
.
|
0
|
0
|
3
|
0
|
0
|
0
|
.
|
0
|
1
|
0
|
0
|
0
|
.
|
0
|
6
|
0
|
KMA
|
106
|
0
|
.
|
6
|
4
|
6
|
0
|
.
|
6
|
6
|
7
|
0
|
.
|
6
|
6
|
7
|
0
|
.
|
0
|
5
|
9
|
0
|
.
|
5
|
0
|
0
|
0
|
.
|
7
|
5
|
0
|
KI
|
106
|
0
|
.
|
4
|
5
|
0
|
0
|
.
|
4
|
0
|
0
|
0
|
.
|
3
|
3
|
3
|
0
|
.
|
1
|
5
|
1
|
0
|
.
|
0
|
3
|
8
|
0
|
.
|
7
|
5
|
0
|
INDP
|
106
|
0
|
.
|
1
|
9
|
8
|
0
|
0
|
0
|
.
|
4
|
0
|
0
|
0
|
1
|
.
|
0
|
0
|
0
|
LEV
|
106
|
0
|
.
|
4
|
1
|
1
|
0
|
.
|
4
|
1
|
3
|
0
|
.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
.
|
1
|
8
|
7
|
0
|
.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
.
|
7
|
2
|
5
|
K_AUD
|
106
|
0
|
.
|
6
|
7
|
9
|
1
|
.
|
0
|
0
|
0
|
1
|
.
|
0
|
0
|
0
|
0
|
.
|
4
|
6
|
9
|
0
|
1
|
.
|
0
|
0
|
0
|
ROA
|
106
|
0
|
.
|
0
|
9
|
2
|
0
|
.
|
0
|
7
|
9
|
0
|
.
|
0
|
0
|
4
|
0
|
.
|
0
|
6
|
6
|
0
|
.
|
0
|
0
|
4
|
0
|
.
|
3
|
0
|
6
|
UK_PRSH
|
106
|
1
|
2
|
.
|
2
|
4
|
1
|
1
|
2
|
.
|
0
|
0
|
7
|
1
|
1
|
.
|
2
|
7
|
3
|
0
|
.
|
6
|
6
|
3
|
1
|
1
|
.
|
2
|
7
|
3
|
1
|
3
|
.
|
9
|
0
|
7
|
64
|
Tabel 2 Hasil Uji Multikolinearitas
|
Variabel
|
Tolerance
|
VIF
|
INST
|
0,772
|
1,295
|
KPMJ
|
0,852
|
1,173
|
KMA
|
0,938
|
1,066
|
KI
|
0,907
|
1,102
|
INDP
|
0,919
|
1,088
|
LEV
|
0,911
|
1,098
|
K_AUD
|
0,633
|
1,580
|
ROA
|
0,792
|
1,263
|
UK_PRSH
|
0,733
|
1,364
|
Berdasarkan hasil pengujian
multikolinearitas pada tabel di atas
|
dapat disimpulkan tidak terjadi
multikolinearitas antar variabel independen
|
dalam model regresi penelitian ini.
|
Tabel 3 Hasil Uji Hipotesis
|
Variabel
|
B
|
t
|
Sig.
|
Konstanta
|
-
|
0,487
|
-
|
1,976
|
0,051
|
INST
|
0,036
|
0,500
|
0,618
|
KPMJ
|
0,121
|
0,227
|
0,821
|
KMA
|
0,156
|
1,279
|
0,203
|
KI
|
0,024
|
0,379
|
0,706
|
INDP
|
0,006
|
0,255
|
0,799
|
LEV
|
-
|
0,107
|
-
|
2,494
|
0,014
|
K_AUD
|
-
|
0,056
|
-
|
2,094
|
0,039
|
ROA
|
0,336
|
2,226
|
0,028
|
UK_PRSH
|
0,031
|
1,753
|
0,082
|
Durbin-Watson 1,974, Adjusted R Square 0,08, F
|
9,96
|
2
|
,154 Sig. 0,031
|
Berdasarkan hasil uji hipotesis pada
tabel 3 dapat dilihat bahwa ke-
|
pemilikan institusional tidak
berpengaruh terhadap manajemen
laba. Hasil
|
penelitian ini konsisten dengan
penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2004).
|
Kepemilikan manajemen tidak
berpengaruh terhadap manajemen laba. Hasil
|
65
|
penelitian ini konsisten dengan
penelitian yang dilakukan oleh Suranta dan
|
Midiastuty (2005) serta Astuti (2004).
|
Komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
Hasil
|
penelitian ini tidak konsisten dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan
|
oleh Herni dan Susanto (2008), Suranta
dan Midiastuty (2005), Darmawati
|
(2003) serta Damayanthi (2004.
Ketidakkonsistenan ini terjadi karena kebe-
|
radaan komite audit dalam perusahaan
tidak dapat menjalankan tugasnya
|
dalam memonitor pelaporan keuangan
sehingga keberadaan komite audit
|
gagal dalam mendeteksi manajemen laba.
|
Komisaris independen tidak berpengaruh
terhadap manajemen laba.
|
Hasil penelitian ini konsisten dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan
|
oleh Suranta dan
Midiastuty (2005) dan
tidak konsisten dengan penelitian
|
yang dilakukan oleh Herni dan Susanto
(2008). Hasil penelitian ini menun-
|
jukkan bahwa keberadaan komisaris
independen dalam perusahaan gagal
|
menjadi salah satu mekanisme good
corporate governance dalam mendetek-
|
si manajemen laba.
|
Independensi auditor tidak berpengaruh
terhadap manajemen laba.
|
Hasil penelitian ini tidak konsisten
dengan hasil penelitian yang sebelumnya
|
dilakukan oleh Meutia (2004), dan
Mayangsari (2004) serta Susiana dan
|
Herawaty (2007) yang menyatakan bahwa
independensi auditor menjadi
|
salah
satu faktor dalam
mendeteksi manajemen laba.
Ketidak-konsistenan
|
ini terjadi karena terkait dengan
ketidakmampuan auditor dalam mendeteksi
|
terjadinya manajemen laba melalui
proses audit laporan keuangan perusahaan.
|
Leverage berpengaruh terhadap manajemen laba.
Hasil penelitian
|
konsisten dengan penelitian yang
dilakukan oleh Darmawati (2003) dan
|
Astuti (2004). Leverage atau
besarnya hutang merupakan salah satu faktor
|
yang memotivasi terjadinya manajemen
laba (Darmawati, 2003).
|
Kualitas audit berpengaruh terhadap
manajemen laba. Hasil peneli-
|
tian ini konsisten dengan penelitian
yang dilakukan oleh Damayanthi (2004)
|
serta Herni dan Susanto (2008).
Profitabilitas berpengaruh terhadap mana-
|
jemen laba. Hasil penelitian ini
konsisten dengan penelitian yang dilakukan
|
oleh Gul et al. (2005) serta Herni
dan Susanto (2008). Ukuran perusahaan
|
tidak berpengaruh terhadap manajemen
laba. Hasil penelitian ini konsisten
|
dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Suwito dan
Herawaty
|
(2005).
|
66
|
PENUTUP
|
Berdasarkan hasil penelitian dapat
dibuat kesimpulan bahwa leverage,
|
kualitas audit dan profitabilitas
berpengaruh terhadap manajemen laba. Se-
|
dangkan Kepemilikan institusional,
kepemilikan manajemen, komite audit,
|
komisaris independen, independensi dan
ukuran perusahaan tidak berpenga-
|
ruh terhadap manajemen laba.
|
Penelitian ini mempunyai beberapa
keterbatasan yang perlu diperha-
|
tikan untuk penelitian berikutnya,
yaitu (1) jumlah sampel perusahaan yang
|
dijadikan objek penelitian hanya satu
jenis industri saja, yaitu manufaktur
|
sehingga tidak dapat mencakup semua
hasil temuan untuk seluruh perusa-
|
haan publik; (2) Perioda penelitian
untuk memprediksi manajemen laba ha-
|
nya tiga tahun, sehingga memungkinkan
praktik manajemen laba dalam
|
perusahaan yang diamati kurang
menggambarkan kondisi yang sebenarnya;
|
dan (3) Variabel independen yang
digunakan dalam penelitoan ini hanya
|
menjelaskan 8% dari variasi variabel
dependen, sisanya terdapat pada varia-
|
bel lain yang tidak dimasukkan dalam
model penelitian.
|
Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya
adalah (1) menambah
|
populasi perusahaan yang akan
dijadikan sampel peneltian tidak hanya per-
|
usahaan manufaktur tetapi juga jenis
industri lainnya yang terdaftar di Bursa
|
Efek Indonesia; (2) Menambah jumlah
tahun pengamatan agar hasil pene-
|
litian dapat digeneralisasi; dan (3)
Menambah variabel independen di luar
|
model penelitian ini agar dapat diketahui
faktor-faktor utama yang mem-
|
pengaruhi manajemen laba, seperti
jenis industri, market share dan fee audit.
|
REFERENSI:
|
Astuti, Dewi S. Puji. 2004. Analisis
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Manajemen
|
Laba Diseputar Right Issue.
|
http://ejournal.unud.ac.id/abs t
rak/dewi%20saptan t inah%20pu j i%20astuti.pdf .
|
Damayanthi, Eka. 2004. Perbedaan
Pengaruh Besaran Perusahaan Dan Leverage Terhadap
|
Manajemen Laba Pada Perusahaan Yang Memiliki Komite Audit Dan Diaudit
|
Oleh Auditor Berkualitas.
http//:ejournal.unud.ac.id.
|
Darmawati, Deni. 2003. Corporate
Governance dan Manajemen Laba: Suatu Studi Empiris.
|
Jurnal Bisnis dan
Akuntansi, Vol. 5 No. 1, April, 2003, hal: 47-68.
|
Ghozali, I. 2005. Multivariate dengan
Program SPSS. Semarang: Badan Peneliti Universitas
|
Diponegoro.
|
Gul, Ferdinand A., Bikki L.
Jaggi, and Gopal V. Krishnan.
2005. Auditor Independence:
|
Evidence on the Joint Effect of
Auditor Tenure and Nonaudit Fees.
Auditing: A
|
Journal of Practice and Theory,
Vol. 26 No. 2, November, 2007, pp. 117-142.
|
Halim, J., Carmel Meiden, dan Rudolf
L. Tobing. 2005. Pengaruh Manajemen Laba pada
|
Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan
pada Perusahaan Manufaktur yang
|
67
|
Termasuk dalam Indeks LQ-45. Simposium
Nasional Akuntansi VIII, Solo, 15-16
|
September, 2005. http://elmurobbie.wordpress . com /.
|
Healy, Paul M., and James M. Wahlen.
1998. A Review of the Earnings Management
|
literature and Its Implications for
Standard setting. http:// papers.ssrn.com/.
|
Herni, dan Yulius K. Susanto. 2008.
Pengaruh Struktur Kepemilikan Publik, Praktik Penge-
|
lolaan Perusahaan, Jenis Industri, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas dan Risiko
|
Keuangan Terhadap Tindakan Perataan
Laba (Studi Empiris Pada Industri
Yang
|
Listing di Bursa Efek Jakarta). Jurnal
Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 23 No.
|
3
|
, 2008, hal: 302-314.
|
Indriantoro, N., dan B. Supomo.1999. Metodologi
Penelitian Bisnis. Yogyakarta: BPFE.
|
Isnanta, R. 2008. Skripsi Pengaruh
Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan Ter-
|
hadap Manajemen Laba dan Kinerja
Keuangan.
|
http://rac.uii.ac.id/server/document/Public/2008080708584504312069.pdf
.
|
Kusuma, H., dan Wigiya A.U. Sari.
2003. Manajemen Laba Oleh Perusahaan Pengakuisisi
|
Sebelum Merger dan Akuisisi di
Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indo-
|
nesia,
Vol. 7 No. 1, Juni, 2003, hal: 21-36.
|
Mayangsari, Sekar. 2004. Analisis
Pengaruh Independensi, Kualitas Audit, Serta Mekanis-
|
me Corporate Governance Terhadap Integritas Laporan
Keuangan. Simposium
|
Nasional Akuntansi VI,
Surabaya, 16-17 Oktober, 2003, hal: 1255-1269.
|
Meutia, Inten. 2004. Pengaruh
Independensi Auditor Terhadap Manajemen Laba Untuk KAP
|
Big 5 dan Non Big 5. Jurnal Riset
Akuntansi Indonesia, Vol. 7 No. 3, September,
|
2
|
00
|
4
|
, hal: 333-350.
|
0LGLDVWXW\_ 3UDQDWD 3__GDQ 0DV¶XG
0DFKIRHG]_ _____ $QDOLVLV +XEXQJDQ 0HNDQLVPH *RRG
|
Corporate Governance dan Indikasi
Manajemen Laba. Simposium Nasional Akun-
|
tansi VI,
Surabaya, 16-17 Oktober, 2003, hal: 176-186.
|
Nuswantara, D. Anita.2004. The Effect
Of Market Share and Leverage Interaction Toward
|
Earnings Management Practices. Simposium Nasional
Akuntansi VII, Denpasar-
|
Bali, 2-3 Desember, 2004, hal:
172-186.
|
Novianty, R., dan Indra W. Kusuma.
2001. Analisis Faktor-Faktor Yyang Mempengaruhi
|
Independensi Penampilan Akuntan Publik. Jurnal
Akuntansi dan Auditing Indo-
|
nesia,
Vol. 5 No. 1, Juni, 2001, hal: 1-15.
|
Rajgopal, S., Mohan Venkatachalam, and
James J Jiambalvo. 1999. Is Institutional Owner-
|
ship Associated With Earnings
Management And The Extent To Which
Stock
|
Prices Reflect Future Earnings? http://papers . ssrn.com /.
|
Sanjaya, I Putu Sugiartha. 2008.
Auditor Eksternal, Komite Audit, dan Manajemen Laba.
|
Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia, Vol. 11 No. 1, Januari, 2008, hal: 97-116.
|
Scott, William R. (2000). Financial
Accounting Theory. Second edition. Canada: Prentice
|
Hall.
|
Siregar, S. V., dan S. Utama. 2006.
Pengaruh Struktur Kepemilikan, ukuran Perusahaan,
|
dan Praktek Corporate Governance
terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Manage-
|
ment). Jurnal Riset Akuntansi
Indonesia, Vol. 9 No. 3, September, 2006, hal: 307-
|
326.
|
Sukartha, I Made. 2006. Pengaruh
Manajemen Laba dan Kepemilikan Manajerial pada
|
Kesejahteraan Pemegang Saham
Perusahaan Target Akuisisi.
|
http://ejournal.unud.ac.id/abs t
rak/ok_sukartha.pdf .
|
Sulistyanto, H. Sri,
dan Haris Wibisono.2003. Good Corporate Governance: Berhasilkah
|
Diterapkan di Indonesia. http://researcheng i nes.com/hsulis t
yanto3.h t m l.
|
68
|
Suranta, Eddy, dan Pratama P.
Midiastuty.2005. Pengaruh Good Corporate Governance
|
Terhadap Praktek Manajemen Laba. Konferensi
Nasional Akuntansi.
|
Susiana, dan A. Herawaty.
2007. Analisis Pengaruh
Independensi, Mekanisme Corporate
|
Governance, dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan. Simpo-
|
sium Nasional Akuntansi X,
Makassar, 26-28 Juli, 2007.
|
https://info.perbanasinstitute.ac.id/pdf/AUEP
/ AUEP09.pdf .
|
Suwito, E., dan A. Herawaty. 2005.
Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan Terhadap
|
Tindakan Perataan Laba Yang Dilakukan
Oleh Perusahaan Yang Terdaftar di
|
Bursa Efek Jakarta. Simposium
Nasional Akuntansi VIII, Solo, 15-16 September,
|
2
|
00
|
5
|
.
|
http://muhariefeffendi.f i
les.wordpress.com/2007/11/kakpm-06.pdf.
|
Ujiyantho, Muh.
Arief. 2006. Asimetri
Informasi Dan Manajemen Laba: Suatu Tinjauan
|
Dalam Hubungan Keagenan.
|
http://www .
freewebs.com/stiemuhpekl/asimetr i %20informasi.doc .
|
sumber: http://www.tsm.ac.id/JBA/5_artikel_JBA12.1April2010.asp
Tidak ada komentar:
Posting Komentar